Perbedaan merupakan kenyataan kehidupan sehari-hari. Pria- wanita, tua-muda, kaya-miskin, pintar-bodoh, besar-kecil merupakan pengalaman hidup. Masih ditambah dengan perbedaan asal-usul (orang Pontianak, Sunda, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah) perbedaan kebangsaan (orang Indonesia, Amerika, Arab, Jerman), perbedaan agama, perbedaan budaya (desa-kota, modern-tradisional). Perbedaan itu sering mengundang konflik sampai menimbulkan tindak kekerasan dan perang. Tidak selalu konflik karena perbedaan itu disebabkan oleh niat jahat, tetapi juga karena perbedaan kepentingan, seperti pemilik perusahaan yang memadang gaji pegawai (upah buruh) sebagai pengeluaran perusahaan maka harus ditekan dan dikurangi. Bagi pegawai gaji atau upah adalah pemasukan untuk hidupnya sehingga harus meningkat agar makin sejahtera. Tetapi begitulah kehidupan memang berbeda-beda. Bayangkan saja kalau dunia hanya diisi pria saja atau hanya diisi oleh pemilik perusahaan saja maka dunia tidak akan jalan. Demikian pula dengan kehidupan menggereja. Banyak fungsi dan peran di dalam paroki dan lingkungan yang berbeda-beda. Apakah perbedaan itu justru menghidupkan kehidupan lingkungan atau paroki kita atau malahan membawa konflik dan memperlebar perbedaan? Bagaimana mendamaikan perbedaan-perbedaan itu agar tidak menjadi pertentangan dan konflik? Bagaimana perbedaan itu tidak hanya supaya tidak menjadi konflik tetapi menjadi saling memperkaya dalam kehidupan Gereja, dalam keluarga dan lingkungan?
Santo Paulus kepada umat di Korintus mengibaratkan kehidupan gereja dan masyarakat sebagai tubuh. Banyak anggota badan tetapi menopang hidup tubuh yang sama. Kaki atau mata yang sakit menyebabkan seluruh tubuh juga sakit. Dengan pembaptisan orang Katolik menjadi satu tubuh, yaitu tubuh Kristus atau Gereja. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”, tegas Santo Paulus dalam I Kor 12: 27. Ada implikasi ethis dan sosial dari keberadaan kita sebagai satu tubuh, yaitu bahwa masing-masing anggota bertanggung jawab atas anggota yang lain. Satu anggota tubuh tidak bisa mengklaim mau hidup sendiri karena bergantung pada hidup anggota yang lain. Untuk itu ia harus memelihara hidupnya sendiri dengan baik sehingga tidak menjadi beban anggota yang lain. Setiap anggota tubuh juga harus mau berbagi dengan anggota lain sehingga semua anggota tetap dapat hidup dengan sehat. Setiap anggota tubuh peduli terhadap anggota yang lain agar dirinya tetap dapat hidup dengan baik. Dengan demikian kendati banyak perbedaan, baik asal-usul, profesi, kemampuan, sifat dan karakter setiap anggota gereja berbeda-beda tetapi semuanya mengusung kehidupan tubuh yang sama, yaitu Gereja. Oleh karena itu pertanyaannya, sudahkah kita bertanggung jawab atas hidup pribadi dan kehidupan bersama kita dengan bekerja giat dan mau berbagi serta saling membantu sesama yang memerlukan?




