
Hari Sabtu, tgl. 26 Januari yg lalu, saya menghadiri Seminar “SUCCESS IN 2013” bersama salah satu Motivator Enterpreneurship Indonesia : Valentino Dinsi. Dia mengaku berasal dari keluarga sederhana, namun kini berhasil mengelola bisnis milyaran rupiah. Pada awal seminarnya, Valentino menunjuk sebuah buku karangannya, yg menjadi “bestseller” dan telah mengantarnya menjadi seorang Milioner. Setelah mempromosi buku tersebut, dia mengangkatnya dan mengatakan : “siapa mau buku ini …siapa mau buku ini?” Itu diucapkannya berkali-kali dan anehnya .. tak satupun peserta yg jumlahnya 300 orang memberikan reaksi, termasuk saya. Sampai akhirnya ada seorang peserta yg berani berlari ke depan dan mengambil buku itu dari tangan Valentino. Dan peserta itu mendapatkan buku bestseller yg biasanya dijual seharga Rp. 75 ribu tersebut secara gratis. Peserta tsb melihat peluang yg ada, lalu keluar dari tempat duduknya yg nyaman, berlari ke depan di bawah sorotan ratusan pasang mata yg menyaksikannya, dan dengan penuh keyakinan mengambil buku bestseller itu. Peserta itu telah memanfaatkan sebuah “MOMENTUM” - sebuah peluang yg berharga. Banyak “momentum” yg ditawarkan kepada kita setiap saat, namun hanya sedikit orang yg berani mengambilnya.
Bacaan injil hari ini (Lk 4:21-30) merupakan kelanjutan dari injil minggu lalu (Lk 4:16-20). Setelah berpuasa 40 hari lamanya, Yesus kembali ke kampung halamanNya di Nazareth dan mengikuti Ibadat pada hari Sabath. Pada saat ibadat itu Yesus tampil ke mimbar untuk membaca Kitab Suci dan membawakan kotbah yg pertama. Semua orang yg hadir terpesona akan pribadi Yesus. Mereka “merasa heran akan kata-kata indah yg diucapkanNya” (Lk 4:22). Ternyata ceritera Lukas tidak berhenti di sini. Setelah ibadat selesai, umat yg hadir memaksa Yesus untuk membuat mukjizat. Dan karena keinginannya tak dipenuhi, mereka ingin membuang Yesus ke tebing jurang. Namun secara luar biasa, Yesus bisa menyelamatkan diri dan “pergi dari antara mereka” (Lk 4:30). Episode di dalam Rumah Ibadat ternyata terbalik 1800 dibandingkan suasana di luar Rumah Ibadat. Kalau di dalam Rumah Ibadat mereka merasa heran dan kagum akan penampilan Yesus, tetapi di luar Rumah Ibadat mereka kesal dan marah kepada Yesus sehingga ingin membuangNya. Sikap ini tentu saja merugikan mereka sendiri. Mereka tidak berhasil menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus. Dan lebih jauh lagi, mereka kehilangan “YESUS”, karena Yesus akhirnya pergi dari antara mereka. Lalu apa yang dapat kita pelajari dari injil hari ini ? Pertama, kita tidak bisa memaksa Allah untuk melakukan mukjizat. Apa yg dilakukan Allah kepada kita semata-mata adalah “anugerah” dan “kasihNya”. Mukjizat yg akan terjadi dalam hidup kita bukan karena “kehebatan” dan “jasa” kita, melainkan karena “kebaikan” dan “kerelaanNya”. Iman kita kepada Allah tidak bergantung kepada ada atau tidak adanya mukjizat. Kasih Allah itulah yg melandasi hidup iman kita. Kedua, sikap di dalam rumah ibadat bisa bertolak-belakang dengan sikap di luar rumah ibadat. Umat di Nazareth merasa heran dan kagum ketika Yesus berada di dalam rumah ibadat. Mereka kagum akan kotbahNya yg begitu mempesona. Namun ketika di luar rumah ibadat, mereka ingin menjatuhkanNya ke tebing jurang. Sikap umat Nazareth tersebut mungkin tidak jauh berbeda dengan sikap pengikut Kristus saat ini. Identitas kita sebagai orang Kristen atau orang katolik hanya muncul di dalam gereja. Begitu di luar gereja, identitas itu menjadi kabur. Ketiga, hilangnya peluang untuk tinggal bersama Yesus. Tuntutan umat Nazareth agar Yesus mengadakan mukjizat membuat Yesus terpaksa meninggalkan mereka. Sikap egoisme umat Nazareth menyebabkan mereka bukan saja kehilangan momentum untuk menyaksikan “mukjizat”, tapi kehilangan momentum untuk mendapatkan “Yesus”. Yesus pergi dari antara mereka. Banyak momentum berharga di dalam hidup kita yg terpaksa hilang begitu saja, karena kita terlalu ingat diri atau memaksakan kehendak. Banyak orang yg tidak berani keluar dari “comfort zone” atau zona nyamannya untuk meraih peluang-peluang besar yg berada “di luar”. Banyak orang yg memilih kenyamanan semu dengan memilih jalan pintas. Momentum tinggal bersama dengan Yesus adalah jauh lebih berarti daripada menyaksikan mukjizat-mukjizatNya. Dengan kata lain, hidup bersama Yesus adalah mukjizat yg paling besar. Itulah MOMENTUM paling berharga dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Beranikah kita untuk menangkap MOMENTUM itu dalam kehidupan kita setiap hari ? Semoga !




