Baru-baru ini seorang teman bertanya, “Apa sih identitas orang Katolik selain bikin tanda salib dan rumahnya dipasangi salib?” Pertanyaan itu mudah dipahami karena di tengah arus formalisme agama dengan doa-doa dan aturan-aturan baku keagamaan yang sering ditawarkan sebagai alternatif bagi dunia yang lebih baik. Bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian sudah tidak segencar dipergunakan lagi. Lagu-lagu saat ibadat dan misa juga macam-macam dari yang bernada pop sampai lagu-lagu yang digali dari khasanah lagu daerah. Kehidupan menjemaat? Ada. Laris manis kalau diadakan doa Rosario atau Novena. Ramai kalau Natalan atau Paskahan. Tetapi, sepi dan sunyi bila ibadat Prapaskah atau bulan Kitab Suci. Apa identitas lain yang lebih khasat mata? Gaya rambut atau tampang dengan pakaian bergaya orang Timur Tengah atau Yahudi pasti tidak dikenal di lingkungan orang Katolik. Lalu apa lagi?
Adabaiknya kembali ke asal usul kita yaitu saat kita dibaptis sebagai orang Katolik. Seperti dalam Injil hari ini ketika orang banyak dibaptis dan Yesus juga dibaptis “lagit terbuka dan turunlah Roh Kudus” dan “terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3: 21-22). Nah, sudah lebih jelas bukan. Orang yang dibaptis akan menerima Roh Kudus dan Tuhan, Allah Bapa berkenan kepada mereka. Sebagai sama-sama orang yang dibaptis dan dibimbing oleh Roh Kudus yang sama, mesti menjadi identitas orang Katolik. Roh yang membimbing itu tentu tidak tampak, tetapi nyata dalam perbuatan yang jauh dari egoisme, tindakan kekerasan, pemaksaan . Perbuatan yang jauh dari menistakan diri untuk menuju perbuatan mulia yang sesuai dengan martabat manusia sebagai putra-putri Allah Bapa, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Perbuatan seperti apa? Selain tanda salib, ibadat, misa dan doa-doa tadi karena perbuatannyalah orang Katolik menjadi terlihat sebagai pribadi maupun kelompok. Kebaikan hati dan kepedulian kepada sesama yang susah, miskin, dan menderita menjadi ciri dan identitas sebagai orang Katolik. Karena orang Katolik lemah lembut, berempati dan rela membantu orang lain maka Allah Bapa berkenan. Perkenanan Allah itu menjadi hati orang Katolik menemukan damai dan kebahagiaan hidup. Marilah kita menyadari identitas yang tidak sekedar lahiriah sebagai orang Katolik dengan memperkuatnya dalam kata dan perbuatan baik setiap hari




