Agar kehidupan bersama menggereja atau menjemaat dapat berjalan banyak karunia diberikan kepada setiap anggotanya. “Ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh”, tulis Santo Paulus (I Kor 12:4). Ada karunia untuk memimpin paduan suara atau koor, ada karunia untuk menyembuhkan sebagai seorang perawat atau dokter. Ada pula karunia untuk pintar berbicara sehingga dapat menghibur yang lagi sedihd an putus asa sehingga menggerakkan untuk berbuat kebaikan. Ada karunia untuk mengorganisasi dan me-manage kegiatan dan orang sehingga rencana atau kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada karunia lain yang penting adalah karunia tenaga, waktu dan dana yang lebih. Rupa-rupa karunia itu kalau dijumlahkan menjadi Gereja kaya atau lebih tepat dikatakan mampu untuk berbuat sesuatu, baik membantu orang lain maupun menolong warga paroki atau lingkungannya sendiri.
Seperti anggota jemaat di Korintus, banyak karunia itu tidak membuat anggota gereja berjalan sendiri-sendiri, tetapi banyak karunia itu justru mempersatukan karena saling melengkapi, membawa umat pada rasa syukur kepada Roh, Si Pemberi Karunia yaitu Roh Kristus, Roh Cinta Kasih yang menjiwai kehidupan jemaat. Sayangnya, keberadaan karunia itu tidak disadari oleh semua orang. Anggota jemaat sering terpaku pada kesulitan dan kekurangan hidupnya sehingga tidak menyadari bahwa Roh selalu memberi karunia kepada setiap orang yang diteguhkan saat diri mereka dibaptis. Kalau ditanyakan, “Apa karunia Tuhan dalam hidupmu?” Mungkin perlu pikir-pikir dulu untuk menjawabnya padahal karunia itu nyata dalam kehidupannya. Oleh karena itu ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri apa yang Tuhan karuniakan dalam hidupku. Mungkin banyak karunia dan dari banyak karunia itu ada satu atau dua karunia yang menonjol pada setiap orang.
Karunia itu juga bukan untuk dibiarkan atau hanya dinikmati oleh orang yang bersangkutan. Karunia itu untuk membangun kehidupan gereja, membangun umat agar setiap orang dapat merasakan karya penebusan Kristus dalam hidupnya. Atau dapat dirumuskan dengan lebih sederhana agar cinta kasih Tuhan dapat dirasakan dalam hidup mereka. Dengan demikian karunia itu memiliki intensi atau tujuan yaitu sarana pelayanan (service) kepada sesama. Karunia itu juga jangan dibayangkan yang muluk-muluk, tetapi yang paling sederhana, seperti senyum yang tulus saat bertemu dengan orang lain sehingga orang merasakan keramahan dan persahabatan. Karunia itu juga tampak dalam menjalankan hidup keseharian dengan sabar, tidak mengeluh, dan gembira hati sehingga orang yang melihatnya menemukan rasa damai dan pelayanan yang tulus. Dengan demikian pertanyaan “Apa karunia Tuhan dalam hidupku yang dapat saya berikan untuk hidup menggereja?” menjadi penting




