Pegawai pajak zaman Yesus tidak jauh bedanya dengan pegawai pajak masa kini. Penuh kontroversi dan banyak mendapat sorotan masyarakat. Tapi mengapa bisa, Yesus begitu akrab ketika melihat Zakheus di atas pohon? Diceritakan, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (Luk 19: 5). Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita (ayat 6). Memang, seperti terjadi pada Zakheus, keselamatan atau dapat dirumuskan sebagai rasa-perasaan damai, sukacita dan sejahtera hidup seseorang akan didapatkan kalau manusia dekat dengan sang sumber hidup, yaitu Yesus. Dekat dalam pengertian ini adalah adanya jalinan komunikasi untuk membangun tali persahabatan, “Aku menyebut kamu sahabat (bukan hamba), karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15: 15). Seorang sahabat adalah “alter ego” atau diriku yang lain, bagian jiwa kita, seperti dikatakan Santo Agustinus, “Karena seorag sahabat adalah diri saya yang lain, saya dapat bicara dengan dia tentang apa saja yang biasanya hanya saya bicarakan dengan diri saya sendiri, dan saya menyadari memiliki sahabat sejati, ketika saya berani percaya kepadanya tentang apa yang biasanya saya simpan sendiri.” Dalam persahabatan, lanjut Santo Agustinus, kamu mengalami dirimu tidak hanya sebagai dirimu saja tetapi juga diri kita yang lain bahkan dalam hal yang paling rahasia dalam diri kita, jiwa kita, yang tidak mungkin kita buka bagi orang yang bukan sahabat. Tanpa seorang sahabat, hidup terasa hampa dan tidak berharga karena tidak ada yang dekat. Itulah sebabnya Yesus, Sang Sahabat Sejati, selalu membuang hal-hal yang menghalangi orang dekat dengan diriNya. Penghalang itu, seperti dosa, kelemahan manusiawi, cap dan penghakiman orang lain, bukan hanya meminggirkan orang tetapi bahkan menjauhkan orang itu dengan dariNya. Yesus menyingkirkan penghalang yang menyebabkan seorang seperti Zakheus jauh dari Nya.
Yesus membuka babakan baru dalam hidup Zakheus, yaitu membuka persahabatan sejati dengannya. Dari sisi Zakheus, ia punya keberanian untuk menemui dan menyambut Yesus sebagai sahabat. Dengan demikian persahabatan menjadi amat penting dalam seluruh hidup kita yang merupakan perjalanan tersendiri tetapi bukan perjalanan seorang diri. Zakheus mendengar, mendatangi dan berjumpa dengan Yesus sehingga menerima keselamatan. Relasi kita dengan Tuhan dapat disejajarkan dengan pasang surut kita dalam membina persahabatan dengan Yesus. Yesus adalah wajah Tuhan yang mendatangi kita yang juga tampak dalam wajah-wajah para sahabat kita yaitu sesama kita. Membina relasi persahabatan dengan Tuhan dan sesama lewat doa dan merenung menyadari kebersamaan dengan Yesus, bukan hanya menjadi modal untuk mampu berbuat baik, sabar, bekerja keras dan tekun, tetapi juga menjadikan kita mampu menangkap misteri dan keagungan karya Tuhan sebagai Bapa yang Mahabaik dalam hidup kita setiap hari. ***




