Pertanyaan orang Saduki tentang status perempuan sebagai isteri sesudah kematian hanya mau mengatakan bahwa kehidupan akhirat itu tanda tanya besar. Soalnya mereka memang tidak percaya. Mereka lalu mengajukan satu kasus. Kalau seorang perempuan yang menikahi 7 bersaudara berturut-turut di dunia karena satu per satu suaminya meninggal lalu siapa yang menjadi suaminya di akhirat nanti? Bukankah kehidupan sesudah kematian itu tanda tanya besar dan tidak masuk akal? Yesus menegaskan bahwa kehidupan yang akan datang orang “tidak kawin dan dikawinkan” sebab “mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20: 36).
Orang mengawali sesuatu dengan mengakhiri sesuatu, sebaliknya mengakhiri sesuatu selalu dengan mengawali sesuatu terlebih dahulu. Argumen itu dapat untuk menjelaskan kehidupan yang akan datang sesudah kematian. Tetapi, pertanyaan orang Saduki itu kembali muncul berupa kritik kepada agama Kristen pada zaman modern ini, “Tuhan telah mati, era Kristiani sudah tamat”. Kritik itu rupanya masih relevan. Di mana Tuhan ketika begitu banyak tindakan kejahatan, korupsi, kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, dan perang masih menghiasi halaman- surat kabar dan acara berita di TV. Akibatnya, seperti dapat dilihat pada berita-berita di media massa, orang mati hanya gara-gara antre memperoleh daging korban, bom-bom bunuh diri masih merajalela, penyelewengan penggunaan uang negara atau uang rakyat, angka ibu yang meninggal saat melahirkan, aneka pembunuhan keji, aneka kecelakaan maut di jalan raya. Dan ada perkara-perkara yang dinilai sebagai bertentangan dengan ajaran agama itu justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama. Apakah Tuhan benar “masih” hidup ? Kenapa tidak segera memberi pertolongan lagi? Bagaimana dengan masa depan hidup manusia?
Yesus menyatakan bahwa ada kehidupan sesudah kematian (badan), karena Allah, “bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (Luk 20: 38). Tuhan tidak mati, tetapi manusialah yang mematikannya atau lebih tepat dikatakan manusialah yang menganggap Tuhan telah mati. Bahkan bukan hanya Tuhan yang (dianggap) mati tetapi manusialah yang membuat sesamanya mati, karena kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan, kebencian, kerakusan dan dendam kesumat. Kalau orang percaya akan Allah yang hidup dan ada kehidupan sesudah kematian maka konsekuensinya adalah tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial bagi kehidupan di dunia ini, dengan membangun hidup, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama di lingkungan, tempat kerja, dan masyarakat, agar menampakkan kehidupan ilahi yang tidak akan mati. Caranya dengan mewujudkan keadilan, kebaikan hati, pengampunan dan cinta kasih kepada diri dan sesama. Surga atau kehidupan abadi bukan hanya nanti, tetapi harus diwujudkan sejak sekarang di dunia ini dengan membangun kehidupan kita masing-masing sehingga nanti mendapatkan kepenuhan atau kesempurnaan hidup nanti di surga. Pertanyaan bagi yang percaya kehidupan abadi adalah sudahkah kita setiap hari membangun hidup kita sebagai pribadi, dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat kita?




