Betapa mahabesar dan mahaadilnya Allah Sang Pencipta langit dan bumi! Semua diciptakan sangat baik, sangat indah dan adil! Kekayaan variasi yang tak terbatas semakin mempercantik alam! Kekuatan dan kelemahan setiap elemen menjadi bagian manusia untuk ‘mengelola’ sedemikian supaya ‘lulus’ dalam ujian hidup di alam fana ini! Sudah ada keseimbangan antara kelebihan duniawi dan potensi sorgawi. Orang yang diberi kelebihan dalam aspek fisik-duniawi (wajah dan kekayaan) biasanya memiliki kelemahan dalam aspek spiritual (sombong dan mengandalkan diri); sebaliknya, kekurangan dalam bidang fisik-duniawi (orang miskin) biasanya ‘otomatis’ cenderung bersandar dan dekat pada Allah.
Oleh karena itu orang yang miskin dihadapan Allah dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran disebut bahagia karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga; demikian pula, orang yang berduka cita juga seharusnya berbahagia karena mereka akan mendapat penghiburan dalam KerajaanNya! Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (Luk 16:22-25).
Allah tak harus menunggu pengadilan akhir untuk menghukum orang yang berfoya-foya tak tahu diri. Nabi Amos mengingatkan hukuman Allah bagi orang yang berpesta pora tanpa mempedulikan kondisi masyarakat yang tengah menuju kehancuran. "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! (Am 6:1,4-6).
Santo Paulus juga berpesan agar kita waspada terhadap uang dan berani melawan nafsu duniawi yang bercokol di hati kita. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (1Tim 6:11-15).
Maukah kita menahan diri berjuang melawan nafsu duniawi? Atau perlu bukti dari dunia orang mati? [..] “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31)
Betapa mahabesar dan mahaadilnya Allah Sang Pencipta langit dan bumi! Semua diciptakan sangat baik, sangat indah dan adil! Kekayaan variasi yang tak terbatas semakin mempercantik alam! Kekuatan dan kelemahan setiap elemen menjadi bagian manusia untuk ‘mengelola’ sedemikian supaya ‘lulus’ dalam ujian hidup di alam fana ini! Sudah ada keseimbangan antara kelebihan duniawi dan potensi sorgawi. Orang yang diberi kelebihan dalam aspek fisik-duniawi (wajah dan kekayaan) biasanya memiliki kelemahan dalam aspek spiritual (sombong dan mengandalkan diri); sebaliknya, kekurangan dalam bidang fisik-duniawi (orang miskin) biasanya ‘otomatis’ cenderung bersandar dan dekat pada Allah.
Oleh karena itu orang yang miskin dihadapan Allah dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran disebut bahagia karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga; demikian pula, orang yang berduka cita juga seharusnya berbahagia karena mereka akan mendapat penghiburan dalam KerajaanNya! Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (Luk 16:22-25).
Allah tak harus menunggu pengadilan akhir untuk menghukum orang yang berfoya-foya tak tahu diri. Nabi Amos mengingatkan hukuman Allah bagi orang yang berpesta pora tanpa mempedulikan kondisi masyarakat yang tengah menuju kehancuran. "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! (Am 6:1,4-6).
Santo Paulus juga berpesan agar kita waspada terhadap uang dan berani melawan nafsu duniawi yang bercokol di hati kita. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (1Tim 6:11-15).
Maukah kita menahan diri berjuang melawan nafsu duniawi? Atau perlu bukti dari dunia orang mati? [..] “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31)




