Di bulan akhir Januari 1965 siaran radio Australia memberitakan seorang pastor “ekstrimist” ditembak oleh seorang pejabat pemerintah di Agats, Papua. Ceritanya, sesudah kembalinya wilayah Papua (dulu disebut Irian Barat) banyak sekolah negeri didirikan, termasuk di daerah Agats. Pemerintah menginginkan murid yang berada di sekolah misi pindah ke sekolah negeri seperti mau dipaksakan oleh pejabat KPS (Kepala Pemerintah Setempat) waktu itu. Pertentangan pun terjadi, sejumlah pertemuan di Pirimapun, Agats antara pemerintah dan pengurus yayasan Katolik untuk menyelesaikan konflik itu tidak membuahkan hasil. Pada 27 Januari 1965 Pater Yan Smit OSC, pengurus persekolahan Katolik setempat yang teguh mempertahankan keberadaan sekolah Katolik mendapatkan ultimatum 24 jam dari KPS agar menemuinya di kantor. Pater datang dan KPS mendesak agar pastor itu pergi, “Apakah Pastor mau kembali ke Amerika?” Pater Yan Smit yang berasal dari Belanda tetapi bersama-sama misionaris OSC dari Amerika menjawab, “Saya ingin tetap di sini!”
Pejabat KPS yang menemui jalan buntu segera bertindak memerintahkan polisi untuk membawa Pater Yan Smit menuju dermaga agar pergi. Pater tetap bertahan untuk tetap tinggal. Dengan kalap KPS empat kali menembak Pater Yan Smit sehingga menghembuskan nafas terakhir pukul 10.50 WIT pada 28 Januari 1965, di tengah-tengah umat yang dicintainya. Anehnya, Pemerintah pusat di Jakarta malah mempersiapkan telgram yang memberi penghargaan pada KPS yang menembak pastor sebagai seorang patriot. Ia tidak dihukum tetapi hanya dipindah-tugaskan ke tempat lain. Tentu saja, tokoh-tokoh partai Katolik tidak menerima dan melakukan serangkaian penyelidikan untuk membela pastor misionaris itu. Singkat cerita, didapatkan bukti bahwa pater tidak bersalah dan pejabat itu harus dihukum 4 tahun penjara. Kini pemerintah dan Gereja setempat sudah mengadakan rekonsiliasi, baik pemerintah maupun gereja bersama-sama mau melayani masyarakat dengan karya pendidikan, kesehatan dan sosial-ekonomi. Patung Pater Yan Smit didirikan di tempat beliau ditembak mati. Nama “Yan Smit” menjadi nama yayasan pendidikan. Pengorbanan Pater Yan Smit menyuburkan hidup dan karya Gereja.
Kisah hidup Pater Yan Smit mengingatkan akan sabda Yesus, “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Luk 21: 12- 13). Kesaksian Gereja lewat karya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial seperti dialami Pater Yan Smit tidaklah mudah. Dalam suasana hidup yang serba dihitung dengan uang, tidak mudah bagi sekolah atau yayasan Katolik untuk bertahan. Demikian pula, dalam karya kesehatan, masih mungkinkah mengobati orang miskin dengan murah atau gratis? Rumah-rumah sakit swasta “harus” mahal agar dapat bersaing dengan rumah sakit swasta maupun rumah sakit pemerintah. Sementara karya sosial karena tidak kuatnya modal atau dana berupa uang amat berat untuk bertahan hidup. Menjadi tantangan umat Katolik bagaimana tetap bersaksi di tengah situasi yang serba uang, serba gaya mentereng dan serba konsumtif. Semoga lewat kebersamaan menjemaat yang saling asah, asuh, dan asih karena iman akan Yesus menemukan bentuk-bentuk karya baru yang relevan pada zaman sekarang. Selain itu, kesaksian utama orang Kristen adalah lewat kesaksian hidup sehari-hari yang memancarkan iman, harapan dan kasih Allah sebagai Bapa yang Mahabaik seperti nyata dalam hidup, karya dan kebangkitan Yesus. ***




