Menutup tahun liturgi, Gereja merayakan “Tuhan Raja Semesta Alam”. Artinya, Tuhan Yang Mahabaik itu mengasihi dan menyelenggarakan hidup manusia sehingga lewat segala kerja dan usaha manusia – baik gagal maupun berhasil, susah maupun mudah, lancar atau penuh hambatan, sehat maupun sakit - Tuhan menyelenggarakan hidup manusia agar setiap orang memperoleh keselamatan. Masalah utamanya apakah kita percaya bahwa Tuhan memang Raja Semesta Alam? Benarkah Tuhan yang Mahabaik dan Mahakasih itu benar-benar merajai hidup kita setiap hari? Apa artinya Tuhan itu merajai hidup kita?
Rupanya banyak orang yang tidak percaya sama sekali bahwa Tuhan itu Raja sehingga bunuh diri, padahal Tuhan yang empunya hidup belum memanggil mereka. Penelitian World Health Organization (WHO) pada 2005 menunjukkan sekitar 150 orang di Indonesia bunuh diri setiap hari. Dalam setahun, jumlahnya diperkirakan mencapai 50 ribu orang. WHO memperkirakan angka bunuh diri secara global sekitar 16 per 10.000 orang atau hampir satu juta orang setiap tahun. Angka ini mencakup 200.000 kasus di China, 190.000 di India, dan sekitar 140.000 di negara-negara maju.
Ada pula orang yang setengah-setengah untuk percaya dan tidak sehingga hidupnya dipenuhi kekhawatiran oleh banyak hal dalam hidup sampai mengalami depresi yang berkepanjangan. Dalam dunia kedokteran diyakini berbagai penyakit fisik terkait dengan kesehatan jiwa atau faktor depresi atau hidup dalam tekanan. Bukan hanya itu data WHO 2001, depresi sebagai penyakit keempat penyebab hilangnya waktu produktif tertinggi pada 2000. Depresi akan naik ke peringkat kedua penyebab hilangnya waktu produktif pada 2020 setelah penyakit jantung iskemik (arteri koroner). Perubahan gaya hidup dan ketatnya persaingan antar-individu membuat makin banyak orang menderita depresi. Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah penderita gangguan jiwa berat tertinggi di Indonesia. Prevalensi pada 2007 mencapai 2,03 persen (sekitar 150.000 orang)
Setiap orang dalam derajat atau tingkat tertentu orang mendapat tekanan karena mengalami jalan buntu, merasa down, putus asa, dan perasaan tertekan. Keadaan itu membuat dunia kita kurang terang dan bahkan bisa saja terasa gelap. Hari Raja Tuhan Semesta Alam mengingatkan kita bahwa dalam situasi apapun, dalam keadaan yang paling gelap dan berat sekalipun masih ada Tuhan yang merajai hidup kita. Seperti orang yang disalibkan bersama Yesus, kita dapat berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23: 42). Dan Yesus akan menjawab, “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ayat 43).
Karena Allah yang Mahabaik dan Mahakasih itu merajai hidup kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa, jalan buntu, atau merasa sia-sia tak berharga. Apapun keadaannya dan kepepetnya, Tuhan sebagai Bapa yang Mahabaik selalu menyelenggarakan hidup kita. Dengan demikian, hidup kita sehari-hari menjadi jalan keselamatan bagi diri kita. Hidup kita menjadi sejarah keselamatan tersendiri karena bersama Kristus. Dengan kata lain bahwa keadaan kita hari ini merupakan yang terbaik untuk saat sekarang ini dan akan menjadi lebih baik lagi pada hari esok, karena Allah merajai hidup kita. Masalahnya, percayakah kita bahwa Allah merajai hidup kita?




