Suatu malam tahun 1995 ayah saya yang tinggal di desa dikunjungi teman dekatnya, sebut saja A. Sang tamu membawa teman, B, yang tidak dikenal ayah saya. Si B diperkenalkan sebagai pedagang sapi (dalam arti sebenarnya) sukses, tapi sedang kesulitan keuangan. Anda tahu ke mana cerita selanjutnya. Si B bermaksud meminjam uang, seharga dua ekor sapi, dengan jaminan si A. Merasa tidak punya uang sebesar yang diminta, ayah saya memberikan “solusi”, yakni meminjamkan uang yang dibutuhkan ke credit union (CU, semacam koperasi) di paroki ayah saya. Solusi ini diberikan karena ayah saya percaya pada jaminan pribadi yang diberikan A. Pada gilirannya ayah saya bersedia memberikan jaminan pribadi kepada CU bagi B. CU di paroki memberikan kredit yang diminta dengan syarat yang menjadi debitur adalah ayah saya. Jadi ada dua model personal guarantee di sini. Si A menjadi penjamin tanpa ikatan apa pun, sedangkan ayah saya menjadi penjamin dengan ikatan. Dalam dunia bisnis personal guarantee adalah praktik yang biasa. Bank atau lembaga keuangan berani memberikan pinjaman sejauh ada jaminan. Jaminan yang umum adalah aset; tetapi jaminan pribadi juga masih dimungkinkan.Yang menarik dicermati adalah hubungan antara tiga pihak:yang dijamin, penjamin, dan kepada siapa jaminan diberikan. Bisa dipastikan bahwa si penjamin sepenuhnya percaya pada yang dijamin. Si A berani menjamin B karena percaya. Ayah saya memberikan jaminan pada A dan B juga karena sepenuhnya percaya. Yang menerima jaminan (CU) juga percaya pada yang memberikan jaminan (ayah saya). Percaya penuh. Hanya jika kepercayaan ini sepenuhnya muncul, maka proses penjaminan berjalan. Hari ini Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa di surga dengan sikap sebagai penjamin. Doa tersebut bisa diibaratkan sebagai argumentasi yang disampaikan pada Bapa, mengapa Beliau berani memberikan jaminan tentang kita para pengikutnya. Ada dua tahapan “negosiasi” Tuhan Yesus kepada Bapa. Pertama Beliau seperti “mengingatkan” relasi-Nya dengan Bapa. Aku telah mempermuliakan Engkau dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan. Tahap kedua, Beliau seperti mengangkat kredibilitas kita umat-Nya di hadapan Bapa. Hanya dalam sebelas ayat lima kali Beliau mengatakan bahwa kita umatnya adalah mereka yang Kauberikan kepada-Ku. Kalimat itu masih dua kali digarisbawahi bahwa mereka adalah milik-Mu.




