Apa dan siapakah Roh Kudus itu? Mungkin inilah misteri iman yang paling sulit dipahami. Kesulitan itu terjadi karena kita berpikir secara ruang dan waktu. Berbicara apa (benda) atau siapa (orang) kita selalu tergiring pada pertanyaan semua itu saat ini atau saat lain (waktu) ada di mana (ruang). Allah Bapa “mudah” kita pahami sebagai Tuhan pencipta, tinggal di surga, sepanjang segala waktu. Allah Putera masih “mudah” dipahami karena pada suatu ketika pernah tinggal di dunia, dan setelah bangkit menyatu kembali dengan Bapa. Lantas, apa dan siapa Roh Kudus? Saat ini ada di mana? Bagaimana dengan saat lain?
Kesulitan pemahaman ini “diperbesar” oleh praktik dan “bahasa” iman di sekitar kita. Ada istilah “pencurahan roh”, “dirasuki roh”, “bahasa roh”, dan sebagainya. Istilah ini bisa menimbulkan pertanyaan terkait ruang dan waktu, dari atas ke bawah? Kok dicurahkan, bukan dituangkan atau disisipkan? Kok ada upacaranya; apakah upacara ini berfungsi seperti katup (valve) buka-tutup? Ada pihak yang punya otoritas (kuasa) membuka-menutup keran ini?
Selama masa kepausannya yg masih pendek, Paus Fransiskus sepertinya memahami persoalan yang dihadapi umatnya ini. Dalam sejumlah audiensi Paus secara spesifik mengatakan pentingnya umat katolik berteguh dalam iman Para Rasul “sembari memusatkan perhatian pd Roh Kudus.”
Dalam audiensi dengan para katekis di Vatikan pada Rabu 15 Mei silam, Paus mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, yang diam dalam diri kita, yang memungkinkan kita mengenal kebenaran sejati. Pilatus tidak mengenal WajahKebenaran yang ada di hadapannya, semata karena dia tidak memiliki Roh Kudus dalam dirinya. Saat ini, menurut Paus, kita perlu semakin memusatkan hati kita pada karya Roh Kudus karena kita hidup di era yang kian meragukan (adanya) kebenaran. Kebenaran yang mana? Terutama kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah “sang Sabda Kebenaran.” Mengutip St. Paulus beliau menambahkan, “Tidak seorang pun bisa mengatkan Yesus adalah Tuhan kecuali karena Roh Kudus.”
Karena itu sejatinya setiap orang yang terpanggil dan kemudian mengakui kebenaran iman katolik, sesungguhnya dia telah menerima “hembusan Roh Kudus” seperti yang dialami oleh para murid. Dia bisa menghayati kebenaran iman seperti itu semata karena Roh Kudus, yang ada dalam dirinya, yang menunjukkannya. Roh yang sama itu pula yang setiap hari menegur kita bila kita akan jatuh dalam dosa; bila kita akan melakukan kekeliruan; bila kita mulai melangkah di jalan sesat. Yang menjadi masalah adalah, kita sering menutup telinga dari bisikan-bisikan lembut itu. Ketika Roh mengatakan jangan korupsi, jangan mengambil yang bukan hakmu, kita juga mendengarkan rasionalisasi roh lain yang berkata kalau sedikit bolehlah. Terkait ini Paus bertanya, pernahkah kita berdoa khusus pada Roh Kudus, supaya kita lebih peka pada kehendak Tuhan? Kita harus lebih banyak berdoa kepada Roh Kudus, karena banyak hal di era baru ini yang membuat hati kita semakin buta dan tuli terhadap kebenaran




