Sabda Tuhan yang disampaikan kepada kita ibarat benih (padi atau gandum) yang ditaburkan. Apakah sabda itu akan berkembang dan berbuah ternyata tergantung dari tanggapan dan sambutan manusia. “Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis” (Mat 13: 4). Tetapi, “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat”, (ayat 8). Tentu, kita tidak mau terjadi bila sabda itu di tanah yang tandus alias hidup kita begitu kering kerontang sehingga sabda itu menjadi sia-sia. Kita ingin agar sabda itu tumbuh, berkembang serta berbuah bagi hidup kita dan orang-orang di sekitar yang kita jumpai setiap hari. Bagaimana hidup kita menjadi tanah yang subur bagi firman Tuhan? Cara nya agar kita tidak hanya menjadi pendengar firman Tuhan, tetapi menjadi pelaku firman. Firman Tuhan yang kita dengarkan pada saat Misa atau kita baca dalam Kitab Suci pada intinya adalah kabar gembira bahwa Tuhan Yang Mahabaik itu mengasihi kita umatNya. Kasih Tuhan itu menjadi nyata dan manusiawi dalam hidup Yesus yang berpihak pada manusia agarmampu mengatasi kelemahan dan kedosaannya untuk bangkit bersama Dia. Kita bangkit menjadi manusia baru yang memberikan buah berupa kebaikan, tindak keadilan, dan cinta kasih yang menjadi kesaksian kepada setiap orang yang kita jumpai bahwa Allah memang penuh kasih. Dengan itu, sabda Tuhan yang disampaikan kepda kita tdak sia-sia tetapi tumbuh dan berkembang serta berbuah. Hidup yang menjadi “tanah” yang subur bagi sabda Tuhan harus selalu kita mohonkan dalam doa kepada Tuhan. Artinya, kita mohon agar Roh Kudus menuntun kita agar Sabda Tuhan itu juga nyata dalam kehidupan nyata setiap hari. Menjadi perjuangan panjang agar Sabda Tuhan terlaksana dalam kehidupan kita. Karena apa yang menjadi doa kita, menjadi apa yang kita harapkan dan apa yang kita usahakan. Buah sabda Tuhan bukan hanya rasa damai sejahtera dalam hati kita, tetapi juga produktivitas dalam keluarga dan masyarakat kita. Mungkin ada formula yang dapat membantu kita untuk mengingatnya setiap hari, “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119: 105).




