Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula. Doa ketika mengenakan stola: “Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”diambil dari : YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Akan diadakan pada tgl. 10 Juli, pkl.09.00 – 16.00 di gereja Santa Theresia. Pembicara : Fr. Laurence ,OSB [ Director of the World Community for Christian Meditation] ; Dr. Cathy Day [ Director of townsville Catholic Education office ] ; Ernie Christie [ Deputi Director of the Catholik Education for the Diocese of Townsville]. Diperuntukan bagi orangtua, guru dan pemerhati anak, tempat terbatas Free of charge. Pendaftaran hub: Kindawati : 0811.827642 ; Suprapto : 0815.0170818 ; Andreas : 0812.8100333
Diinformasikan bagi para koordinator wilayah dan ketua lingkungan, penyaluran barang maupun dana hasil sumbangan umat untuk baksos Pesta Nama Paroki ke 17 tahun sudah dapat dilakukan di posko penerimaan di depan Gereja setelah misa setiap hari Sabtu pkl.18.00 – 19.00 dan Minggu jam 08.00 – 11.00
Telah terbit 30 Juni, masih ada 33 lingkungan yang belum mengambil. Diharapkan para ketua lingkungan atau waklinya yang diberi delegasi untuk mengambil majalah tersebut setelah misa hari Sabtu dan Minggu di rumah seberang pastoran
Tali Kesucian Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15). Doa ketika mengenakan singel: “Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.” Diambil dari ”YESAYA: www.indocell.net/yesaya




