
Bacaan I : Yes. 45:1,4-6; Bacaan II : 1Tes. 1:1-5b;
Bacaan Injil: Mat. 22:15-21.
IKUT SERTA DALAM MISI-NYA
Hari ini Gereja memperingati Hari Minggu Misi Sedunia yang ke 100. Melalui ketiga bacaan kitab suci kita semua diajak untuk merenungkan bagaimana Allah merancang misi-Nya melampaui batas-batas suku, bangsa, dan pemerintahan duniawi untuk membawa keselamatan bagi umat manusia.
Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Allah memakai Kores, raja Persia untuk memulangkan orang-orang Yahudi dari pengasingan di Babel. Allah menyebut Kores sebagai orang yang diurapi (Yes. 45:1). Dia memanggil Kores, memberinya gelar meski Kores tidak mengenal-Nya. Ini merupakan pesan dari Nabi Yesaya bahwa Allah bisa memakai siapa saja untuk menjalankan misi-Nya karena Dia adalah Allah yang berdaulat penuh atas kehidupan ini.
Kedaulatan Allah ini ditegaskan kembali oleh Yesus saat Dia dicobai oleh lawan-lawan-Nya. Orang-orang Farisi dan para pengikut Herodes mengajukan pertanyaan kepada Yesus “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Orang-orang Farisi dan pengikut Herodes merupakan dua pihak yang berseteru, namun kali ini mereka bersatu untuk menjebak Yesus. Jawaban Yesus bukan “boleh” atau “tidak boleh”. Tetapi Yesus mengajak mereka berpikir dengan mengajukan pertanyaan, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu” Setelah mereka menunjukkan Yesus bertanya lagi “Gambar dan nama siapakah ini?” Mereka menjawab bahwa di mata uang tersebut adalah gambar dan nama kaisar. Yesus mengakhiri dialog dengan kalimat “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar, dan milik Allah kepada Allah.” Di sini Yesus ingin mengingatkan akan sebuah sikap hidup yang kerap hilang dari orang-orang Yahudi yaitu ketaatan. Sejak bebas dari perbudakan di Mesir, Israel berulang kali jatuh ke dalam dosa akibat ketidaktaatan mereka akan perintah Allah.
Jika Allah bisa memakai Kores, seorang yang tidak mengenal-Nya, maka Dia pun bisa memakai kita, yang mengenal Dia dalam sosok Yesus Kristus. Semua itu harus dilandasi pemikiran sebagai ciptaan, kita adalah gambar dan rupa Allah (imago Dei). Ini menegaskan bahwa kita adalah milik Allah. Maka seperti yang disampaikan Yesus agar kita memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya, demikianlah kita menyerahkan hidup kita seutuhnya untuk ikut serta dalam misi-Nya, yaitu mewartakan kabar sukacita keselamatan.
Misi merupakan panggilan setiap orang yang telah menerima rahmat baptisan. Di mana pun Allah mengutus kita —di dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan gereja dan masyarakat— mari kita jadikanlah hidup kita wujud nyata dari "pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan harapan" (1Tes 1:3).
Mari kita senantiasa bertekun dan bersyukur atas penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus, yang memampukan kita semua bermisi memberitakan Sukacita Injil.[DN]




