
Bacaan I : Keb. 6:12-17; Bacaan II : 1Tes. 4:13-18 ;
Bacaan Injil: Mat. 25:1-13
BIJAK MENYIMPAN MINYAK
Menjelang akhir tahun liturgi, Gereja mengingatkan kita akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Bacaan-bacaan kitab suci hari ini mengajak kita untuk menata hati agar dengan penuh kearifan dan kesiapsiagaan iman dalam menyongsong kedatangan-Nya.
Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Perumpamaan tentang Gadis-Gadis yang Bijaksana dan Gadis-Gadis yang Bodoh yang menggambarkan dengan jelas bagaimana seharusnya sikap para pengikut Kristus yang sejati. Dikisahkan ada sepuluh gadis yang akan menyambut mempelai pria. Lima di antaranya bijaksana dan lima lainnya bodoh (morai). Mereka semua membawa pelita dan karena mempelai pria agak terlambat datang maka dan mereka semua tertidur. Lalu, apa yang membedakan si bijaksana dan si bodoh?
Gadis-gadis yang bodoh hanya membawa pelita tanpa membawa cadangan minyak. Ini menggambarkan bahwa mereka menginginkan sukacita pesta nikah, tetapi mempersiapkan minyak, sesuatu yang penting yang membuat pelita mereka menyala lebih lama. Sementara Gadis-gadis yang bijaksana membawa pelita beserta persediaan minyak dalam buli-buli mereka. Mereka memperhitungkan kemungkinan terburuk dan bersiap menghadapi ketidakpastian waktu kapan sang mempelai pria datang.
Pelita melambangkan iman, sementara minyak merupakan lambang dari perbuatan kasih, pertobatan, kebiasaan berdoa, membaca kitab suci dan menghidupi firman Allah dalam kehidupan sehari-hari. Pelita dan minyak adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Iman tanpa perbuatan kasih bagaikan pelita tanpa minyak. Ia tidak bisa menyala pada saat yang dibutuhkan, saat mempelai pria tiba dan memasuki ruang perjamuan.
Kedatangan mempelai pria yaitu Yesus Kristus yang kedua kalinya merupakan pengharapan kristiani. Lalu bagaimana orang-orang yang meninggal sebelum kedatangan-Nya kembali? Kepada Jemaat di Tesalonika, Paulus menegaskan agar mereka tidak berduka seperti orang-orang yang tidak memiliki harapan. Sebab, sama seperti Yesus telah mati dan bangkit, demikian pula Allah akan mengumpulkan mereka yang telah meninggal dalam Yesus [1Tes.4:17]. Bagi mereka yang hidup bijaksana dan setia menjaga pelita imannya tetap menyala, kedatangan Tuhan [Parousia] maupun kematian bukanlah peristiwa yang menakutkan, melainkan puncak pemenuhan janji Allah.
Kebijaksanaan menuntut hasrat dan pencarian aktif. Penulis kitab Kebijaksanaan menyebutkan “Orang yang bangun pagi-pagi demi mencari hikmat, tidak perlu bersusah payah, sebab ia akan menemukannya duduk di dekat pintu.” [Keb. 6:14]. Kita diajak untuk menjadi bijak, bukan semata dalam kecerdasan intelektual melainkan kemampuan untuk melihat hidup dari sudut pandang Allah. Para gadis bijaksana mengetahui bahwa persediaan minyak mereka harus cukup untuk membuat pelita mereka menyala. Semoga kita dimampukan untuk menghidupi pelita iman kita dengan minyak-minyak kasih dari buli-buli kehidupan kita. [CT]




