
Bacaan I : Kel. 22:21-27; Bacaan II : 1Tes. 1:5c-10;
Bacaan Injil: Mat. 22:34-40.
NAFAS HIDUP KRISTIANI
Iman kepada Allah dan kasih kepada sesama bagi sekeping mata uang yang mempunyai dua sisi. Dua hal ini menyatu dan tidak bisa dipisahkan. Ketiga bacaan hari ini merajut sebuah pesan indah bagaimana kaitan erat yang terjadi tersebut.
Wajah Allah yang penuh belas kasih digambarkan dengan sangat jelas pada bacaan pertama. Dia memberi berbagai perintah untuk memperlakukan orang asing, janda, yatim piatu, dan orang miskin dengan penuh belas kasih. Bangsa Israel diingatkan bahwa mereka sendiri pernah menjadi orang asing dan menderita di Mesir. Karena itu mereka tidak boleh menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain. Allah mengajarkan Bangsa Israel bahwa ukuran kesalehan tidak terletak pada banyaknya doa yang diucapkan, tetapi pada bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Menariknya dalam bacaan Injil, seorang Farisi, kelompok Yahudi yang sangat taat pada hukum Taurat dan tradisi agama, bertanya kepada Yesus tentang perintah utama dalam hukum Taurat. Ini adalah pertanyaan yang tidak masuk akal dan adanya kesengajaan untuk mencobai Yesus. Jawaban Yesus tidak menyimpang dari hukum Taurat itu sendiri. Dia justru merangkum seluruh hukum Taurat ke dalam dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat 22:37,39). Kedua perintah ini tidak dapat dipisahkan. Kasih kepada Allah menjadi sumbernya, sementara kasih kepada sesama menjadi buahnya. Orang yang sungguh mencintai Allah akan semakin peka terhadap kebutuhan orang lain.
Teladan dalam menghidupi kasih, mungkin itulah kalimat singkat yang dapat disampaikan oleh Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Tesalonika. Mereka menerima Injil dengan sukacita meskipun mengalami banyak penderitaan (1 Tes1:6). Iman mereka tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi menjadi kesaksian hidup yang nyata sehingga mereka menjadi teladan bagi banyak orang. Mereka berpaling dari berhala untuk melayani Allah yang hidup dan benar.
Ketiga bacaan hari ini mengajak kita melakukan pemeriksaan batin yang sederhana namun mendalam: apakah kasih kita kepada Allah sudah terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama? Transformasi hidup jemaat Tesalonika menunjukkan bahwa kasih kepada Allah selalu menghasilkan perubahan sikap dan tindakan. Ketika seseorang sungguh mengalami Allah, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi berkat bagi orang lain. Iman mereka menjadi nyata dalam pelayanan, pengorbanan, dan kesaksian hidup sehari-hari. Bagi para pengikut Kristus, mengasihi Allah dan sesama bukan sekedar menjalankan perintah-Nya, namun sudah harus menjadi nafas hidup sehari-hari. [MLS]




