KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN YESUS
Apa beda kepemimpinan (leadership) dan manajemen (management)? Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai “hal melakukan yang benar” atau berkaitan dengan substansi atau isi. Sedangkan manajemen adalah “hal melakukan dengan benar” yang terkait dengan sistem atau cara melakukan sesuatu agar sesuatu dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien serta memberikan hasil yang optimal. Yesus merumuskan kepemimpinan dan manajemen sangat revolusioner pada waktu itu hingga sekarang ini! Memimpin bukan menguasai dengan tangan besi, tetapi melayani dengan menjadi hamba bagi semua. Sistem atau caranya juga juga revlusioner dengan melayani dan bahkan sampai memberikan hidupnya untuk orang yang dilayani. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."(Mrk 10:45).
Kini kata melayani juga sering diucapkan oleh para pemimpin atau calon pemimpin serta kita semua. Ada lembaga pendidikan yang menggunakan motto “serviam” (= Aku hendak melayani) bagi anak didiknya. Kalau kata itu sering dan mudah diucapkan apakah tolok ukur atau kriterianya bahwa seseorang atau suatu lembaga benar-benar melayani seperti yang telah diteladankan Yesus? Kriterianya mudah saja dengan bertanya, Cui bono? Manfaat atau benefit dari pekerjaan atau perbuatan itu untuk siapa? Pemimpin yang mengaku melayani, tetapi rakyat atau orang yang dilayani tetap susah bahkan menjadi makin miskin tentu bukan pelayan atau abdi yang sejati. Begitu pula dengan seorang suami atau isteri yang mengaku melayani keluarga tetapi berbuat kasar dan tidak mengindahkan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga, tentu bukan suami atau isteri yang benar-benar melayani. Seorang pegawai negeri yang hanya melayani bila diberi tips atau uang rokok tentu bukan pegawai negeri yang mengabdi masyarakat. Pejabat yang hanya menikmati gaji dan fasilitas serta tunjangan jabatan tanpa prestasi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tentu bukan pejabat yang melayani.
Bagaimana seorang pengusaha atau wirausaha swasta yang melayani? Kisah hidup seorang pengusaha media yang sudah almarhum menunjukkan bahwa hal itu mungkin. Keuntungan perusahaan bukan untuk hidup berfoya-foya atau dihabis-habiskan untuk hidup mewah, tetapi keuntungan usaha itu dijadikan modal untuk membuka usaha baru agar semakin banyak menampung tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran serta menyediakan lapangan kerja bagi semakin banyak orang. Di samping itu, keuntungan usaha juga untuk lebih menyejahterakan karyawan dengan penyediaan bonus dan dana hari tua. Hidup si pengusaha itu tetap berpola hidup sederhana sehingga biografinya diberi judul “Hidup sederhana Berpikir (dan Bertindak) Mulia”. Apa pun profesi seseorang dapat di-managed dan diarahkan (dipimpin) agar tetap menjadi sarana pelayanan kepada sesama seperti telah dilakukan Yesus yang berkat hidup dan korban Salib-Nya telah menebus kita





Kalau sekarang Yesus datang dan lalu meminta, “Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mrk 10: 21), apa yang akan kita katakan? Mungkin karena tahu pernyataan Yesus, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10: 23) kita tidak berani menolaknya, seperti pemuda saleh dan kaya itu. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang tidak bisa bilang “Tidak” sehingga menjawab, “iya”. Tetapi, soal melakukannya menjadi soal lain. Sebagian barang atau harta akan dijual, tetapi tidak semua atau tidak dilakukan sama sekali.
Seorang Prof. filsafat diundang memberi ceramah pendek kepada para eksekutif tentang cara menghadapi stress. Tiba-tiba ia mengeluarkan stoples kosong dan mengisinya dengan bola-bola golf, lalu bertanya kepada audiens apakah stoples sudah penuh? Mereka menjawab: "Penuh!".
Sudah sejak zaman dulu kecenderungan orang untuk menawar apa saja. Menawar harga meskipun harga itu “harga mati” dengan meminta diskon. Menawar aturan dengan argument ini dan itu supaya yang semula tidak boleh lalu ada excuse atau pengecualian sehingga menjadi boleh. Kini hukum juga ditawar-tawar lewat kelihaian pengacara atau ahli hukum sehingga hukum bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan atau keinginan orang yang memintanya. Hal yang sama terjadi pada orang Farisi pada zaman Yesus dengan bertanya, “Bolehkah orang menceraikan isterinya?” Pertanyaan itu mungkin (sekali lagi mungkin) menjadi pertanyaan bagi sejumlah orang Katolik pada masa kini. Tentu saja tidak diharapkan banyak yang bertanya seperti itu.
Bacaan Injil pada minggu ini sangat keras! Betapa tidak. Coba direnungkan kembali,” Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (Mark 9: 43). Bukan hanya tangan, tetapi kaki dan mata sekalipun kalau menyesatkan harus dipangkas atau dienyahkan. Peringatan keras Yesus itu dalam kerangka hidup mengikuti Yesus untuk menyongsong kedatangan kerajaan Allah sejak sekarang sampai nanti pada kepenuhannya di surga.