Adakah yang perlu dipertanyakan dari kasih Allah? Allah telah menciptakan semuanya baik adanya. Walaupun manusia berdosa dan jatuh kedalam maut, Allah tidak segan mengutus AnakNYA untuk menebus dosanya sekaligus memberi teladan melakukan kehendakNYA dengan setia. Bukankan semua kebaikan itu patut disyukuri? Tapi, apa balasan dari umatnya? Tidaklah banyak yang mau berserah dan bersyukur, sebagian besar ‘menghujani’ Allah dengan berbagai tuntutan: mengapa doa permohonan saya belum dikabulkan? Mengapa saya yang rajin beribadah dan berdoa terus dirundung berbagai kemalangan sementara orang lain yang tidak jujur menikmati kehidupan nyaman? Mengapa Allah membiarkan ketidak-keadilan terjadi dimana-mana?
Manusia cenderung mencari penyelesaian masalah diluar dirinya, padahal ‘musuh’ pertama yang harus dilawan adalah dirinya sendiri yaitu hawa nafsunya! Kita sering lupa bahwa syarat bagi orang yang mau mengikut Yesus adalah harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya! Egoisme, keserakahan, iri hari dan kesombongan menyebabkan segala kebaikan yang diciptakan Allah tidak mendatangkan keadilan dan damai sejahtera. Berbagai kesulitan, penyakit dan penderitaan selalu ada bersama kehidupan untuk mengingatkan manusia untuk berbagi dan saling membantu. Pada jaman Perjanjian Lama orang yang sakit kusta diberi tanda khusus dan tidak mendapat tempat dalam masyarakat. Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya. (Im 13:45-46).
Allah tidak hanya membiarkan kesulitan, penyakit dan penderitaan tetap ada dalam kehidupan yang fana ini, Dia memberi teladan berbelas kasih dan murah hati. Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. (Mrk 1:40-42).
Yesus diurapi dan diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Sebagai pengikutNYA, dengan Baptis dan pengurapan minyak suci kitapun diutus untuk meneruskan karya kasih itu. Sanggupkah kita? Tentu tidak kalau hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri, namun bukankan Allah berjanji untuk menyertai umatNYA sampai akhir jaman? Allah menghendaki kita berusaha melakukan kehendakNYA dengan setia! Maka, marilah kita berusaha sekuat tenaga melakukan kehendakNYA dengan setia tanpa menjadi batu sandungan bagi orang lain!Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. (1 Kor 10:31-32).
Keserakahan yang melanda negeri ini sungguh sudah sangat luar biasa. Jaman edan seperti yang diramalkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito sedang terjadi. Orang beramai-ramai melakukan kecurangan dan korupsi karena takut tidak mendapat bagian. Namun Sang Pujangga tetap menyimpulkan bahwa betapapun beruntungnya sang koruptor dan ketidak-jujuran, pada akhirnya yang lebih beruntung adalah orang yang selalu waspada menjauhkan diri dari kejahatan dan mendekat pada Sang Pencipta.
Betapa tragisnya hidup ini apabila hanya berisi kefanaan yang mendorong orang berebut nikmat sesaat. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita memerlukan ‘makanan dan pakaian’, namun kita juga tahu bahwa dunia ini hanyalah ‘jalan-setapak’ menuju keabadian; hanya ‘pelaksanaan tugas’ atas peran yang harus kita jalani: kadang cerah menyenangkan, kadang menyedihkan dan penuh penderitaan. Yang sedang diatas sering lupa diri menikmati kesenangan sesaat itu, sementara yang dibawah sering putus asa dihajar penderitaan yang seolah tiada akhir. Alangkah baiknya kalau kita mau belajar dari penderitaan dan kesulitan itu. "Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. (Ayub 7:1-4).
Kesenangan yang bisa dikejar di dunia ini samasekali tidak bisa dibandingkan dengan Kehidupan Kekal dalam Kerajaan Allah walau harus mengalami penderitaan duniawi, oleh karena itu pemberitaan injil agar sebanyak mungkin orang bisa diselamatkan adalah jauh lebih utama untuk dilakukan. Maka, walaupun masih banyak orang yang menderita sakit dan kerasukan setan mencariNYA, Yesus pergi meneruskan perjalanan untuk mewartakan Kabar Keselamatan itu. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:35-39).
Pertimbangan untuk memilih Jalan Tuhan tentu tergantung pada iman dan latar belakang kehidupan seseorang; kalau lebih mengutamakan kehidupan kekal berarti harus melakukan kehendak Allah dengan segala konsekuensinya dalam memikul salib penderitaan. Santo Paulus yang mendapat tugas memberitakan Injil mempunyai strategi berempati untuk mendekati dan memenangkan jiwa orang, dengan satu tujuan yaitu mendapat bagian dalam KerajaanNYA! Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. (1 Kor 9:17). Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya. (ayat 22-23).
Bagaimana pilihan kita?
Kemunculan Yohanes Pembaptis membuat geger orang farisi dan para imam agung. Pasalnya sudah lama memang suara kenabian yang seperti diserukan Yohanes itu telah lama hilang dari tengah kehidupan orang Israel sebagai umat pilihan. Situasi yang menggambarkan krisis relasi antara Allah dan umat manusia. Allah begitu jauh sampai-sampai nubuatnya tidak terdengar lagi. Jadi tidak heran bila rasa penasaran yang mendalam bercampur rasa tidak percaya akhirnya menghantar mereka untuk mengorek lebih dalam sosok Yohanes Pembaptis. Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Sepertinya seruan kenabian seperti ini pun tengah kita dambakan di tengah jaman yang menurut banyak orang serba amburadul ini. Jika lebih dramatis situasi jaman ini dapat digambarkan sebagai jaman tanpa pengharapan. Begitu banyak orang merasa frustrasi dengan kegagalan sistemik yang melanda kehidupan moralitas dan perilaku bangsa ini. Ambil contoh saja soal korupsi. Jika lebih jujur berkaca kita akan terperangah mendapati bahwa tindakan korupsi sudah menjadi budaya yang dimaklumi dalam segala aspek kehidupan bersama. Entah karena frustrasi dengan kelakuan petinggi yang menjarah miliaran hingga triliunan dana public, tidak sedikit rakyat biasa menjad latah untuk ikutan korup. Nyolong arus listrik pun gak masalah daripada gak dapat sama sekali . Belum lagi kita tersandera budaya suap yang terpaksa hrs kita pilih biar urusan cepat selesai dan usaha lancar.
Situasi seperti ini jelas membutuhkan keberanian dari diri kita untuk menyerukan suara kenabian. Ketika segala kebobrokan dianggap lumrah di saat itulah kita harus berani menawarkan kepada public untuk kembali menjalani kehidupan yang lurus sebagaimana dikehendaki Allah. Integritas Yohanes sejalan dengan nubuatnya, ia bukan hanya berbicara tetapi menjalani cara hidup yang sederhana di pasang gurun demi merasakan bagaimana semestinya kehidupan seorang manusia itu hanya bergantung pada kebaikan Allah. Jadi bila kita menyerukan perbaikan hidup maka yang pertama harus berubah adalah diri kita sehingga kita boleh menjadi contoh bagi sesama baik dalam kata maupun perbuatan.
Selain berani menyerukan suara kenabian, kita pun dituntut untuk jeli mendengarkan seruan kenabian yang didengungkan di sekitar kita. Orang Yahudi sama sekali tidak menyadari kehadiran Mesias di tengah mereka lantaran terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang Mesias. Terlampau tertekan dalam suasana penjajahan Romawi mereka berharap agar Mesias tampil sebagai pahlawan perang yg membebaskan mrk dr kolonialisasi. Nyaris terlupakan oleh mrk sosok Mesias yg dinubuatkan Yesaya sbg Raja Damai yg lemah lembut. Atas kedegilan mrk Yohanes berkata, "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Bagi kita, Yohanes menawarkan semangat perubahan. Buatlah pembenahan dengan mulai belajar hidup secara lurus dan benar dalam segala situasi. Itulah identitas kita sebagai orang Katolik, kalau ya bilang ya, kalau tidak bilang tidak. Di saat yang sama pun kita diajak untuk mendengar suara Allah ketika DIA bernubuat melalui orang lain yang bersinggungan dengan kita atau pun lewat segala peristiwa kehidupan yang kita jumpai. Mudah-mudahan konsistensi kita untuk hidup lurus membuat kita layak menerima Sang Mesias saat Dia datang kembali.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38). Dalam permenungan yang panjang kerap saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya pernyataan kesanggupan Maria untuk menerima karunia sebagai Bunda Allah adalah kunci yang membuka gerbang keselamatan bagi seluruh umat manusia. Bayangkan saja apa yang mungkin terjadi jika Maria berkata sebaliknya. Bukan tidak mungkin bahwa sejarah keselamatan kita masih menjadi tanda tanya besar, buram dan tak berpengharapan. Pasalnya hanya melalui pernyataan itulah Allah merealisasikan janji penyelamatan-Nya dengan menjadi manusia.
Kesanggupan Maria inilah yang menempatkan dirinya kemudian sebagai teladan beriman kepada Allah. Bukan berlebihan ketika Gereja Katolik menempatkan Bunda Maria sebagai panutan dan menggelarinya sebagai Bunda Gereja. Ibu yang dari rahimnya pun Gereja terlahir. Maria begitu percaya dan yakin dengan penyelenggaraan Ilahi sehingga dia tulus menerima tugas mulia, tanpa gentar menghadapi segala konsekuensi yang dari semula sudah terlintas. Maria lebih memilih agar kehendak Allah harus terjadi dibanding memikirkan segala persoalan yang pasti timbul krn pilihan itu. Berkat iman yg besar membuat Maria lgsng menyatakan sanggup tanpa perlu memikirkan lbh lama lagi.
Semangat mengandalkan Allah semata atau percaya pada kehendak Allah sebagai jalan terbaik kerap terabaikan di tengah keberimanan kita dewasa ini. Bukannya bermaksud mengecilkan segala upaya manusiawi yang kita lakukan tetapi umumnya kita kurang melibatkan Allah ketika persoalan hidup mendera. Kita terlalu sibuk dengan usaha dan daya pribadi kita tanpa melibatkan Allah dalam pergumulan itu. Biasanya Allah diingat pada saat kita sudah tak berdaya, ketika segala keperkasaan kita pupus, saat segala jalan mulai tertutup di saat itulah kita baru memanggil Allah untuk masuk dalam perkara hidup kita. Parahnya lagi dalam keputusasaan yang demikian malah tidak sedikit orang yang menggerutu dan menyalahi Allah atas segala yang sudah terjadi. Inilah gambaran kesombongan daging yang secara kasat mata mempertontonkan betapa iman kita begitu dangkal.
Kembali pada kisah Maria menerima kabar gembira ini, sesungguhnya Allah tidak memaksakan kehendaknya, tetapi DIA memberikan kesempatan kepada Maria untuk memutuskan. Inilah karunia kehendak bebas yang diberikan Allah, membiarkan kita memilih. Dan karunia kehendak bebas ini digunakan Maria dengan menyatakan sanggup menjadi Bunda Allah. Oleh karena pernyataan kesanggupan itulah Elizabeth yang dipenuhi Roh Kudus berkata : 'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?' (Lukas 1:42-43).
Bunda Maria dipilih Allah karena kerendahan hatinya untuk membiarkan kehendak Allah terjadi atas hidupnya. Seharusnya kesalehan itu menjadi bagian integral dari hidup kristiani kita. Ketika dunia cenderung mengagungkan kemapanan diri yang diukur dalam statistik keterpenuhan materi memang bukan perkara mudah kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Salah-salah kita malah dipandang sebelah mata sebagai orang yang gagal dan sebagainya. Namun menjadi pribadi yang rendah hati hrs dijalani pasalnya hanya melalui cara inilah kita menempatkan kehendak Allah sbg yg terutama dlm hidup. Jika tdk rendah hati maka Allah & segala kehendaknya tersingkir dr listing prioritas hidup kita, manusia mjd kemaruk dgn sejuta ambisi yg memasungnya. Sesungguhnya ketika kita rendah hati berpasrah pd penyelenggaraan Allah maka kita akan melakoni hidup dgn langkah yg lbh ringan. Kerjakan dahulu kehendak Allah & yakinlah bhw yg lainnya pasti akan ditambahkan Allah sendiri.
(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011)
Para Ibu dan apa, Para Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
1. Pada hari Minggu yang lalu, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan itu menutup satu lingkaran tahun liturgi. Dengan merayakan pesta liturgi itu kita mengungkapkan kepastian iman kita bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya, akan menyempurnakannya juga pada waktunya.Keyakinan iman inilah yang oleh Rasul Paulus dinyatakan dengan kata-kata ini, “Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).
2. Hari ini kita memulai satu lingkaran liturgi yang baru dengan Minggu Adven I, yang pada tahun berikutnya juga akan ditutup dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Masa Adven dalam arti sempit mengundang kita untuk menyiapkan kedatangan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Natal. Dalam arti luas, Adven juga mengajak kita untuk memperkokoh harapan kita bahwa pada waktunya Tuhan akan menyempurnakan karya penyelamatan yang telah dimulai-Nya. Selama masa penantian dan pengharapan itu, menurut kata-kata Rasul Paulus yang kita dengarkan pada hari ini, “Allah juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:8). Begitulah dinamika iman dan harapan kita yang kita ungkapkan dalam lingkaran-lingkaran tahun liturgi. Dengan menempatkan diri kita ke dalam dinamika liturgi itu, karya penyelamatan Allah akan semakin kita alami: iman kita menjadi semakin dalam, harapan kita semakin kokoh dan kasih kita semakin menyala.
3. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga (Mrk 13:33.34.35.37) menantikan kedatangan Tuhan itu. Pertanyaannya adalah, dengan cara apa kita berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan? Jawabannya ada bermacam-macam. Salah satu jawaban diberikan kepada kita melalui Kitab Nabi Yesaya yang diwartakan pada hari ini yaitu denganmembiarkan diri kita – baik secara pribadi, keluarga, komunitas, paroki maupun keuskupan – dibentuk oleh Tuhan, karena kita semua adalah buatan tangan Tuhan (bdk. Yes 63:8). Dalam rangka membiarkan diri kita bersama-sama dibentuk oleh Tuhan itulah Keuskupan Agung Jakarta menetapkanArah Dasar Pastoral dan setiap tahun menawarkan tema-tema pendalaman iman. Kalau bahan-bahan itu kita renungkan dan kita batinkan, kita boleh berharap hidup pribadi kita, keluarga, komunitas, paroki dan hidup kita bersama sebagai warga Keuskupan Agung Jakarta akan terus-menerus diperbarui dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus, semakin sehati sepikir dan seperasaan dengan-Nya (bdk. Flp 2:5).
4. Dalam rangka berusaha membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah inilah, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi dengan tema “Dipersatukan, Diteguhkan, Diutus”.Tema ini dipilih dengan berbagai pertimbangan. Antara lain kita ingin menempatkan diri kita dalam arus rohani Gereja se-dunia, yang pada tanggal 10-17 Juni 2012 yang akan datang mengadakan Kongres Ekaristi ke-50 di Dublin. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekaristi: Bersatu dengan Kristus, Bersatu di antara kita”. Selanjutnya tema Tahun Ekaristi Keuskupan Agung Jakarta ini melanjutkanyang sudah kita dalami selama tahun 2011 yaitu “Mari Berbagi”. Dengan demikian kita berharap agar kerelaan kita berbagi tidak hanya didorong oleh motivasi kemanusiaan, melainkan kita landaskan pada iman yang kokoh. Dengan menerima roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan, kita berharap juga dapat menjadi roti Ekaristi: seperti halnya roti Ekaristi, kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati Tuhan, agar siap dipecah-pecah dan dibagi-bagikan bagi dunia.
5. Kekayaan Ekaristi dengan mudah dapat kita timba dari salah satu pernyataan Gereja sebagai berikut: “…… Setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, seharusnya selalu ingin berbuat baik dengan penuh semangat, menyenangkan hati Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibentuk dan dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus” (Eucharisticum Mysterium no. 13).
6. Melalui surat ini saya ingin mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk secara khusus memperdalam pengetahun dan penghayatan mengenai Ekaristi selama tahun 2012 yang akan datang. Sejarah panjang liturgi Ekaristi, kedalaman maknanya dan kekayaan lambang-lambangnya tidak bisa kita tangkap dengan baik selain dengan mempelajarinya. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan kembali wafat dan kebangkitan Kristus dan mensyukuri karya penyelamatan Allah bagi kita. Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita dan menerima roti kehidupan yang menjadi kekuatan dalam peziarahan iman kita. Janji Tuhan untuk selalu menyertai umat-Nya sampai akhir jaman tidak dapat kita alami kecuali dengan mengasah kepekaan batin kita akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Semoga pertemuan-pertemuan yang sudah selalu kita adakan pada masa Adven, Prapaskah, bulan Liturgi, bulan Kitab Suci dan kesempatan-kesempatan lain dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pendalaman Ekaristi itu. Sementara itu bahan-bahan yang diperlukan sudah dan akan disediakan oleh saudari-saudara kita yang dengan sepenuh hati menyiapkannya.
7. Akhirnya bersama para imam yang diutus untuk melayani umat di Keuskupan Agung Jakarta ini saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam karya kegembalaan kami. Keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke dalam”, membuat Gereja menjadi semakin bermakna bagi umat sendiri. Sementara keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke luar”, membuat Gereja menjadi semakin berarti di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga Ekaristi yang setiap kali kita rayakan semakin mempersatukan kita dalam perutusan yang mulia.
Salam dan Berkat Tuhan untuk seluruh keluarga dan komunitas Anda.
Ttd.
+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta