Heboh bagi orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang sedang berkumpul di Yerusalem ketika tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras (Kis 2: 2). Lebih aneh lagi mereka mendengar Petrus dan murid-murid Yesus yang lain berbicara dengan bahasa-bahasa yang dipakai seperti di negeri asal mereka (ayat 8). Mereka bertanya bagaimana mungkin mereka bisa mengerti satu sama lain. “Kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia.., pendatang-pendatang dari Roma, [..] kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah," kata mereka. Bagaimana kisah Pantekosta ini bisa kita pahami?
Bahasa adalah alat komunikasi sekaligus suatu dunia dengan segala isi dan makna di dalamnya. Namun bahasa, seperti dijelaskan William P. Alston, memiliki sejumlah kelemahan, seperti kesamaran (vagueness), ambigu (kegamangan), tergantung pada konteks, dan bisa menyesatkan. Kata “saya” yang diucapkan setiap orang memiliki makna dan dunia sendiri, karena “saya”-nya berbeda dengan “saya”-nya teman atau saudara. Kata “ya” bagi orang di Jawa bisa “ya” dan “tidak” sama seperti kata “nanti” atau “besok”. Misalnya, tulisan pada angkot “Sekarang bayar besok gratis” yang berarti selalu bayar, karena kapan besoknya? Bahasa yang seharusnya menyatukan sebagai tujuan akhir setiap komunikasi justru menjadi halangan karena orang tidak saling mengerti, karena tidak tahu bahasanya atau memahami makna yang hendak disampaikan.
Kembali ke Kisah Para Rasul tadi, kenapa saat Pantekosta orang di seluruh belahan dunia bisa saling berkomunikasi dan saling memahami. Tidak perlu heran, karena bahasa yang digunakan oleh para Rasul adalah bahasa Roh Kudus atau bahasa cinta kasih. Apapun bahasanya, lewat gerak tubuh (body language), senyuman, tatapan mata, maupun kata-kata dalam bahasa apapun, karena dijiwai oleh bahasa cinta kasih, semua menjadi paham dan mengerti. Banyak kali yang digunakan bukan bahasa cinta kasih, tetapi bahasa kebencian, kecurigaan, amarah dan dendam, pembunuhan, bahasa kekuasaan dengan main kuasa, bahasa penipuan dan ketidak jujuran. Bahasa cinta kasih yang bersumber dari Roh Kudus atau Roh Kristus yang menjiwai hati kita menjadi kita dapat memahami satu sama lain. Bahasa cinta kasih itu yang menyatukan Gereja, menyatukan keluarga dan menyatukan semua orang. Sudahkah kita menggunakan bahasa cinta kasih setiap hari?




