Shusaku Endo, novelis Jepang menulis buku terkenal berjudul “Silence”, Hening (1996; Edisi Indonesia : 2008). Ceritanya, Shogun Ieyasu yang memusuhi orang Kristen. Pada tahun 1614 ia mulai mengusir para misionaris dan menganiaya gerombolan Kirishitan (Kristen). Penyiksaan terhadap orang Katolik dilakukan yang tentu menjadi salib bagi 300.000 orang Katolik pada waktu itu. Salib itu makin bertambah besar sesudah Pemberotakan petani Shimabara karena pajak tinggi dan penindasan dari mereka yang berkuasa. Tuhan dimana? Itu pertanyaan umat Katolik waktu itu. Dengan latar belakang Jepang abad ke-17 novel ini digelar. Alkisah Pater Sebastian Rodrigues, Jesuit dari Portugal diutus untuk membantu gereja setempat di Jepang sekaligus mencari jejak rekannya Pater Ferreira yang “hilang” karena tidak tahan menanggung siksaan dari para algojo Shogun.
Siksaan yang paling bengis sebagai hukuman mati adalah ana-tsurushi. Tubuh orang hukuman diikat erat sampai setinggi dada dan satu tangan dibiarkan bebas kemudian digantung dengan kepala ke bawah dari tiang ke dalam lubang yang biasanya diisi kotoran atau sampah. Bibir lubang sejajar dengan lutut. Supaya darah bisa tetap mengalir, bagian kening diiris sedikit dengan pisau. Mereka yang telah digantung dua atau tiga hari lalu menyangkal imannya menyatakan bahwa siksaan lainnya (dipenggal atau dibakar hidup-hidup) tidak bisa menyamai siksaan hebat dan perlahan-lahan dari hukuman tersebut. Tuhan dimana? Para martir Jepang dapat menjawabnya, termasuk Pater Rodrigues ketika harus menghadapi para algojo. Dikisahkan Pater itu seperti melihat wajah Yesus yang memberi peneguhan, “Saat kau menderita, aku ikut menderita bersamamu. Aku akan selalu dekat denganmu, sampai pada akhirnya”.
Cerita novel itu dapat menggambarkan Doa Imam Agung Kristus (Yoh 17: 20-26) untuk menjawab, “Tuhan Dimana”. “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku [..] ( ayat 24),” demikian Yesus berdoa. Tentu, sebuah doa yang sangat indah. Tuhan dimana? Bukan kini bukan karena “ana-tsurushi” , tetapi banyak hal yang seperti menyiksa kita sekarang ini. Ketika hidup kita terasa kurang ini dan itu. Ketika sakit tak kunjung sembuh sehingga menderita. Ketika mencari nafkah dan hidup jujur menjadi sulit. Ketika anggota keluarga penuh masalah dan tidak memahami diri kita. Ketika hidup terasa membosankan, terasing, dan tidak jelas arah dan tujuannya. Ketika menjadi tua dan sakit-sakitan. Tuhan dimana? Tuhan bersama kita! Itu ditegaskan Yesus dalam doa-Nya dalam Injil hari ini. Sudahkah kita menyadari “Tuhan bersama kita” setiap hari? Atau pertanyaan yang lebih dalam, Sudahkah kita mengimaninya? Marilah kita berdoa mohon iman yang teguh agar kita tidak hanya berani mati tetapi juga berani hidup sebagai orang Katolik yang sejati.




