Tidak sulit menemukan kenyataan dunia yang terbalik-balik di media massa cetak maupun elektronik. Seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya, justru melukai atau menjual anaknya. Suami yang harusnya mengasihi pasangan hidupnya, justru melakukan KDRT dengan menganiaya sang isteri bahkan ada yang tega-teganya membunuhnya. Pejaba...t public yang seharusnya mengabdi atau mewakili masyarakat atau rakyat justru hanya mewakili kantongnya sendiri alias korupsi. Anehnya hanya mendapat hukuman ringan-ringan saja. Pokoknya, banyak kejadian yang menunjukkan kenyataan yang tidak seharusnya atau yang terbalik-balik itu. Minggu ini suguhan bacaan Injil (Mat 21: 33 - 43) adalah tentang kenyataan yang terbalik-balik itu. Bagaimana tidak, lha wong pekerja kebun anggur kok malah gak memberikan bagian panenan yang menjadi hak pemilik kebun anggur. Anehnya, para utusan sang pemilik kebun anggur malah dianiaya. Bahkan, begitu keterlaluannya para pekerja itu sampai tega-teganya membunuh putra pemilik kebun anggur. Memang benar-benar keterlaluan para pekerja itu. Kalau sang pekerja itu harus dihukum seberat-beratnya pasti semua orang pasti setuju. Perumpamaan itu dimaksudkan untuk orang Yahudi yang tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias, Putra Allah. Pengalaman berjumpa dengan Yesus tidak menjadikan mereka beriman, malahan nanti menyalibakan-Nya. Pertanyaan yang relevan, "Bagaimana agar dunia kita atau hidup kita tdk terbalik-balik?" Adakah cara atau kiatnya? Apakah pengalaman hidup kita dpt menghantar kita pd Yesus shg makin beriman atau percaya pd Allah sbg Bapak yg mahabaik?
Jawaban atas dua pertanyaan itu seperti ditunjukkan dalam bacaan itu seperti sudah jelas. Setiap status hidup memiliki kewajiban moral atau "nilai" yang harus diwujudkan dalam kehidupan konkrit. Seorang pekerja kebun menghasilkan panenan, seorang ayah atau ibu menghasilkan kasih dan kehidupan bagi seluruh anggota keluarga. Seorang pegawai negeri atau swasta menghasilkan service, layanan sehingga masyarakat atau pelanggan memperoleh kemudahan dan bantuan bagi hidupnya. Dengan demikian pertanyaannya, nilai apa yang terkandung dalam profesi, jabatan, atau status kita akan menentukan dunia atau hidup kita yang sebenarnya. Bagaimana mewujudkan nilai itu dalam kehidupan memang menuntut semacam kearifan (wisdom) atau istilah gampangnya "kedewasaan" yang merupakan buah dr pengalaman hidup. Oleh krn itu, makin umur bertambah semestinya kearifan orang akan bertambah shg hidupnya makin tertata, tdk hanya rapi tetapi jg nyeni atau indah shg dpt mjd suri teladan bagi orang lain. Kearifan itu akan menghantar orang pd pengalaman iman, bhw hidup sehari2 yg tampaknya biasa itu ternyata bersama Yesus, sang Putera Pemilik Kebun anggur shg karya hidup kita setiap hari betapapun sederhananya merupakan pengalaman iman, krn makin mendekatkan hati orang pd Yesus yg menyelematkan. Nah, kalau itu sdh terjadi, niscaya hidup kita tdk akan terbalik2, tetapi makin hari makin bernilai yg membuahkan kedamaian & kegembiraan di hati. Tentu pencapaian itu merupakan perjuangan sehari2 yg hrs diusahakan & dieprjuangkan.




