Pernah di milis paroki Santa Monika terjadi diskusi hangat soal tata busana saat perayaan Misa Kudus. Pasalnya, ada sementara warga yang terganggu gara-gara pakaian sesama umat yang hadir saat misa. Diskusi kemudian berkembang tentang etika berbusana saat misa. Kesimpulan dari diskusi itu adalah perayaan Misa Kudus adalah undangan perjamuan dari Tuhan sehingga pakaian yang dikenakan harus pantas sebagai orang yang diundang.
Injil hari ini berbicara tentang busana orang yang diundang ke perjamuan Tuhan. Tampaknya ada dress code dalam perjamuan Tuhan, seperti pernah didiskusikan dalam milis paroki. Malang sekali bagi orang yang diundang pesta tetapi tanpa tata busana pesta, “Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."” (Mat 22: 13-14). Nah, supaya seluruh warga paroki ketika mendapat undangan dalam perjamuan abadi tidak terkena pengusiran seperti dalam bacaan Injil hari ini, apa yang mesti diwaspadai dan dilakukan sebagai persiapan?
Busana adalah cerminan kepribadian, bahkan lebih luas lagi kehidupan diri seseorang. Dalam dunia fashion atau model busana dikenal haute couture atau adibusana. Jadi, seseorang secara khusus memesan busana yang dikenakan untuk event khusus, seperti pesta atau acara tertentu. Busana itu tidak dapat “koden” atau diproduksi massal sehingga banyak dijumpai kembaran seperti seragam tentara atau pegawai negeri, tetapi khusus untuk orang yang memesannya. Orang yang berbusana pas dengan pesta kerajaan Allah akan merasa nyaman dan cocok sehingga ibarat program komputer ia compatible. Baik tuan yang punya hajat maupun undangan sama-sama nyambung sehingga tidak ada undangan yang dilemparkan ke luar. Busana yang dimaksudkan adalah kasih dan persaudaraan yang mewarnai seluruh hidup orang yang bersangkutan, orang beriman. Nah, kasih dan persaudaraan itu dibangun setiap hari sehingga ketika ada saatnya kita dipanggil untuk masuk dalam pesta perjamuan kita sudah siap dan cocok untuk menikmati suasana pesta.
Pesta perjamuan itu kita cicipi dan nikmati setiap saat kita mengikuti Misa Kudus, saat kita merayakan kasih Allah, yaitu lewat hidup dan pengorbanan Yesus untuk umat manusia. Kepenuhan kasih Tuhan itu saatnya ketika kita dipanggil menghadap Tuhan. Oleh karena itu, korban Misa menjadi sarana menimba kekuatan dari kasih Yesus agar kita mampu mengasihi dan membangun persaudaraan dengan siapa saja yang kita jumpai setiap hari. Berbusana yang cocok itu dapat diumpamakan juga dengan gelas untuk minum, buatlah gelas sebesar-besarnya dengan berani berkorban sebagai wujud nyata atas kasih dan persaudaraan yang kita bangun setiap hari. Ukuran gelas kitalah yang menentukan berapa besar dan dalamnya kasih Tuhan yang tercurah pada kita untuk ditampung dan dinikmati dalam Perjamuan Abadi yang sudah mulai kita rasakan sejak sekarang. Semoga kita semua tidak lalai untuk membangunnya setiap hari, mulai hari ini juga.




