Kehidupan yang berat membuat orang berjuang memperoleh hidup layak dengan berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan orang lain, lupa akan peringatan Yesus dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh itu: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15).
Semua orang berlomba mencari ilmu baik secara formal di sekolah maupun yang tidak formal sebagai bekal hidup supaya kelak bisa hidup sejahtera. Hasilnya: banyak orang pandai, banyak orang sukses, masih muda sudah berhasil membangun ekonomi-kesejahteraan yang mapan & makmur; tapi apakah dia cukup bijaksana?
Bijaksana berarti dapat membedakan benar-salah dan baik-buruk atas sesuatu hal serta dapat menentukan pilihan yang tepat! Memang tidak mudah menentukan pilihan bijak terutama dalam hal-hal yang bersifat dilematis. Kalau pilihan itu jelas seperti hitam atau putih, tentu tidak sulit memilihnya; tapi bagaimana kalau yang putih itu sulit, perlu pengorbanan & penderitaan, sedangkan yg hitam sgt menarik, mudah, serba instant & hasilnya bisa segera dinikmati?
Ini adalah pilihan dengan taruhan besar, yang bukan hanya memerlukan rasionalisme berfikir, tapi juga menyangkut kehidupan kekal yang belum pernah dialami seorangpun, karena itu butuh Iman untuk menentukannya! Naluri kita selalu memilih yang baik dan benar, tapi apakah kita sanggup teguh mempertahankan pilihan tersebut kalau konsekuensinya berat? Apalagi kalau harus menderita lebih dulu padahal ‘upahnya’ belum nampak! Tapi itulah konsekuensi menjadi pengikut Kristus! Apakah kita masih percaya pada janjiNYA? Kalau sungguh percaya, seharusnya kita tidak perlu ragu pada pernyataan St. Paulus ini: Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (Rm 8:18).
Kita percaya akan Kerajaan Sorga yang disediakan bagi orang yang setia melakukan kehendak Allah. Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. (1 Tes4:13-14).
Kita tentu tdk ingin kehilangan kesempatan spt gadis bodoh yang terlambat karena harus membeli minyak untuk pelitanya sehingga ditolak oleh Sang Mempelai laki-laki: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (Mat 25:12-13).
Sesungguhnya Kebijaksanaan tidak berada diawang-awang, ia ada dekat orang yang berniat mencarinya dengan sungguh-sungguh dan mau merenungkannya serta rela dididik olehnya. Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu. Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan. Sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya. (Keb 6:14-15,17).




