Pada jaman modern ini sulit membayangkan hidup tanpa uang! Dalam bisnis, uang ibarat darah yang bersirkulasi untuk menghidupi dan menjalankan perusahaan! Dalam kehidupan sehari-haripun kita memerlukan uang untuk bertransaksi dalam segala bidang.
Kita tahu bahwa uang bisa digunakan hampir untuk apa saja; untuk membayar semua keperluan hidup, untuk bersenang-senang: makan-minum & beristirahat, untuk membeli jasa dan kesetiaan orang, untuk menyuap dan memaksakan kehendak, bahkan untuk membeli kekuasaan dan membunuh!
Karena hampir semua hal terkait atau memerlukan uang! Sejak bayi, anak dipersiapkan untuk menjadi orang berhasil, artinya: menjadi orang yang pandai mencari uang! Diberi makanan bergizi, masuk sekolah ‘bermutu’ pada usia sangat dini, dilimpahi fasilitas bermain dan belajar yang sangat nyaman; saat menginjak SD dan remajapun dicekoki dengan berbagai pendidikan bermutu baik di sekolah formal maupun extrakurikuler yang tentu perlu biaya tidak sedikit!
Maka tidak mengherankan kalau orang berlomba mencari uang sebanyak-banyaknya karena merasa bahwa hidupnya akan aman dan terjamin dengan banyaknya uang yang dimiliki! Segala cara dihalalkan dan akhirnya uang menjadi segalanya, bahkan menjadi lebih penting dari Allah sendiri! Dalam suratnya kepada Timotius, St Paulus mengingatkan betapa celakanya orang yang terikat pada uang. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Tim 6:10). Tuhan juga mengingatkan bahwa kita tidak bisa sekaligus mengasihi uang dan mengasihi Allah. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Luk 16:13).
Tapi, bukankah uang juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai perbuatan baik? Bisa digunakan untuk membeli makanan bagi yang lapar, membantu orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak, membiayai pengobatan orang sakit yang tidak punya dana untuk berobat, memberi sumbangan kepada anak yatim dan janda, memberdayakan si miskin dengan memberikan modal untuk usaha, dan setumpuk perbuatan amal kasih kepada sesama yang membutuhkan! Syaratnya: jangan menjadi hamba uang, dan jangan sekali-sekali menomor-satukan uang!
Dalam perumpamaan Injil hari ini Tuhan Yesus memuji kecerdikan bendahara yang akan dipecat, dimana dia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk ‘berbuat baik’ dengan cara mengurangi beban hutang para peminjam harta tuannya! Dengan demikian dia telah menanam budi pada para penghutang harta tuannya itu. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." (Luk 16:8-9).
Sebagai warga negara, kita juga harus berdoa bagi Pemimpin Negara agar kita dapat hidup dalam kesalehan dalam suasana aman dan damai. Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Tim 2:1-4). Namun, bila diperlukan, kiranya ada alternatif menggunakan Mamon secara bijak untuk meredam keangkara-murkaan sang pemimpin




