Setiap pekan di seluruh dunia ada seorang wartawan mati dibunuh dalam tugas. Menurut Unesco, sejak 2006 hingga 2013, 593 wartawan tewas terbunuh. Data tahun 2014 tidak lebih baik. Menurut Komite Perlindungan Wartawan Dunia, selama 2014, 61 wartawan terbunuh. Semua data itu merujuk pada wartawan yang dibunuh karena tugas jurnalistiknya. Indonesia juga tidak imun dari fenomena itu. Sebut saja Udin, wartawan Bernas yang dianiaya dan akhirnya tewas, Ersa Siregar (RCTI), Herliyanto (Delta Pos), Naimulah (Sinar Pagi), Agus (Asia Pers) dll. Belum lagi wartawan yang “hanya” dianiaya atau diteror. Untuk yang terakhir, “diteror”, rasanya setiap wartawan “yang bener” dan tidak mau berkompromi tentang kebenaran pernah mengalaminya. Teror, penganiayaan, hingga pembunuhan adalah risiko yang jelas, spesifik bagi wartawan yang tak mau berkompromi tentang kebenaran.Pada poin terakhir inilah, “tidak mau berkompromi tentang kebenaran”, cerita soal kewartawanan dan risikonya terhubung dengan kita, Gereja.Hari ini Gereja merayakan Hari Komunikasi sedunia. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja memang menempatkan komunikasi sosial sebagai instrumen penting pewartaan sabda. Konsili menulis, “Gereja berhak menggunakan dan memiliki semua jenis media, sejauh diperlukan atau berguna bagi pendidikan kristen … dan demi keselamatan manusia.” Dalam konteks itu pula Gereja memilih bacaan injil hari ini. Teks ini merupakan bagian dari pidato plus doa panjang Yesus pada malam perjamuan terakhir. Ini adalah bagian eksklusif Yohanes, yang tidak ada dalam injil lain. Yesus berdoa kepada Bapa, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka… [dan] firman-Mu adalah kebenaran…” Teks ini memberikan pemahaman bahwa ya, Yesus adalah seorang pewarta; yang diwartakan adalah firman-Mu; dan firman-Mu adalah kebenaran.Bahwa pada akhirnya Yesus dibunuh di kayu salib, pangkal soalnya adalah karena Beliau tidak mau berkompromi soal kebenaran. Bagaimana mungkin berkompromi, sebab Beliau adalah pewarta sekaligus sabda itu sendiri. Sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita.Jelas bahwa abad ini adalah abad media sosial. Hampir pasti kita semua adalah para aktivis media sosial. Kita adalah pewarta. Bahan refleksi kita adalah: apa yang kita wartakan; dan seteguh apa kita memegang kebenaran? Seorang wartawan pernah berkata, jika yang kau kautulis dan kausiarkan menyenangkan semua orang, sangat mungkin kau seorang kompromis. Kau tak akan disentuh, apa lagi dibunuh. Nah, Anda bisa menebak kalimat berikutnya
Mau hidup, mau mati... itu semua misteri. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Yang bisa dilakukan hanyalah mengisi kehidupan dengan kebaikan yang berarti.Mau hidup, mau mati... itu semua misteri. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Yang bisa dilakukan hanyalah mengisi kehidupan dengan kebaikan yang berarti.
SAYA merasa hidup saya sudah berarti dengan menjadi anggota, pengurus, dan pembina Putra Altar (PA) selama kurun waktu 14 tahun (1995-2009). Hal inilah yang menjadikan saya terlena. Saya tidak lagi menghayati untuk apa dan siapa saya bertugas. Pikiran pun mengatakan, “Saya cukup bertugas!” Dan itu sudah membayar semua kesalahan saya di hadapan-Nya. Tangan yang terkatup, menundukkan kepala, berlutut, dan jubah misdinar hanyalah formalitas yang menyinari betapa indahnya ketika saya melakukan itu semua. Tetapi, dunia kekudusan di mana saya berkecimpung tidak menancap pada hati dan iman saya.
Bertatapan muka dengan Bunda Maria tidak ada dalam kamus kehidupan saya, bahkan untuk satu menit pun. Yang ada di dalam hati dan pikiran saya hanyalah menjadi misdinar, ya bertugas. Itu saja, tidak ada yang lain. Dunia pergaulan yang bebas membawa saya pada sikap skeptis (ragu-ragu) dan apatis (cuek). Fatalnya,sikap demikian terjadi ketika saya kuliah dan berujung pada iman kekatolikan saya.
Tiga bulan lamanya saya cuek, tidak peduli, tidak menganggap, dan bahkan melupakan Tuhan. Saya cukup senang dengan apa yang saya alami. Pergi dengan teman-teman, jalan-jalan, olahraga, bolos kuliah... itu semua saya nikmati. Lalu, untuk apa saya pergi ke gereja, sedangkan waktu satu setengah jam sangat berharga bagi saya untuk berkumpul bersama teman-teman. “Lupakan ke gereja dan nikmati kesenanganmu!”, batin saya berkata demikian.
Kecelakaan Motor
Pada 9 Juli 2006 tepat pukul 15.00 (di jalan raya dekat Rumah Makan Tomohon BSD City), “kemurkaan” Tuhan menghampiri hidup saya. Kecelakaan motor yang mengakibatkan tulang paha saya patah membuat saya diam seribu kata. Sisa-sisa tenaga hanya saya gunakan untuk menutup mata, tergeletak, dan mengaduh kesakitan yang luar biasa melihat darah bercucuran. Saya tidak terima dan marah kepada Tuhan atas peristiwa ini. Mengapa semua ini terjadi dalam hidup saya? Dengan kejadian ini, saya tidak bisa lagi bermain bola, jalan pun pincang, ke mana-mana susah, menahan malu, bahkan ejekan “Evo, si nyawa kucing” dan “orang cacat” melekat dalam diri saya.
Saya berbalik menanyakan keadilan Tuhan. Mengapa Tuhan begini terhadap saya? Apakah tidak cukup selama 14 tahun saya aktif sebagai misdinar? Orangtua saya pun aktif di gereja, apakah tidak cukup, Tuhan? Apa yang harus saya lakukan supaya semua ini berubah? Dalam keadaan sakit dan tidak berdaya, mama pun marah ketika saya berkata demikian. Peneguhan dan motivasi yang dilakukan mama membuat saya berpikir ulang dan berefleksi. Permenungan terus saya lakukan. Akhirnya, pada suatu saat saya berpikir, “Apakah Tuhan mau lebih dari apa yang saya berikan selama ini?” Suara itu selalu terbayang-bayang dalam pikiran saya, bahkan ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam karena kesakitan. Keputusan yang berani keluar dari hati saya, kalau saya sembuh saya akan masuk biara.
Saya sempat ragu dengan keputusan itu ketika saya sembuh. Godaan akan kesenangan di dunia luar kembali merayu kehidupan saya. Apa yang saya katakan di dalam hati belum seratus persen ingin saya lakukan.
Tiga Peristiwa
Tepat pada 19 Juli 2007, antara pukul 13.30-14.00, keraguan itu dijawab oleh Tuhan. Dia kembali memberikan peristiwa yang kali ini mengamini keputusan saya. Kecelakaan terjadi lagi! Mobil yang saya kendarai terjerumus selokan di kawasan Nusa Loka. Akibatnya, kelopak mata sebelah kanan saya pun dijahit. Saya beruntung karena saat itu saya sendirian dan masih bisa keluar dari dalam mobil untuk menyelamatkan diri.
Peristiwa kedua ini tidak membuat saya marah kepada Tuhan karena kejadian ini saya anggap sebagai jawaban atas keraguan saya. Ternyata, tidak cukup dua kali, bahkan Tuhan memberikan kembali tawaran kepastian itu. Tahun 2008, di bundaran air mancur BSD (saya lupa tanggal dan waktunya) peristiwa kecelakaan menimpa saya lagi. Kali ini, saya berboncengan dengan salah satu teman misdinar. Pada kecelakaan ketiga ini saya hanya jatuh dan lecet-lecet, tidak parah.
Atas ketiga peristiwa ini, saya berefleksi semakin dalam dan yakin bahwa Tuhan mau memakai saya untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Dengan tekad bulat, saya katakan dalam diri saya, “Ya, saya mau masuk biara!” Keputusan ini tidak lain tidak bukan untuk mengabdikan diri saya kepada-Nya atas kebaikan-Nya yang selama ini melindungi saya. Jika tidak, mungkin sekarang saya tidak bisa menulis tulisan ini.
Tuhan berbicara melalui berbagai cara. Itulah yang saya yakini. Saya tidak bisa melupakan bahwa masuknya saya ke biara, tidak lepas dari peran utama saya menjadi PA. Melalui PA, Dia mengetuk pintu hati saya agar saya berbalik kepada jalan kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang berasal dari Dia sendiri. Kebaikan mereka semua sampai saat ini terus saya rasakan.
Dalam berbagai kesempatan, ketika saya memberikan renungan pun, saya menceritakan pengalaman hidup panggilan saya ini yang akhirnya bisa membawa saya memakai jubah Ordo Salib Suci. Enam tahun sudah saya tinggal di OSC dan keluarga baru ini juga membawa perubahan dalam karakter saya. Dalam keluarga baru ini, saya mendapatkan nilai-nilai luhur yang tidak saya dapatkan sebelumnya.
Begitu juga dengan pastoral dan kerasulan yang saya lakukan sekarang. Dalam merasul, saya hanya ingin mengikuti orang Nazareth yang “gila” itu. Betapa tidak? Siapa yang mau jika ditampar pipi kiri memberikan pipi kanan? Siapa yang mau memilih pengikut yang akhirnya mengkhianati-Nya, yang menyangkal-Nya, yang tidak percaya pada kebangkitan-Nya? Siapa yang berani mengatakan omongan kasar kepada ibunya sendiri?
Senyum, Salam, Sapa
Semua “kegilaan” Yesus ini mau mengajarkan kepada saya bahwa perkataan, perbuatan, pikiran, kehendak, dan hati seorang Evo hendaknya tertuju kepada Allah, yang dipraktikkan dalam tugas kerasulan dan pastoral. Sekarang, saya bertugas di Paroki Kristus Raja Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan saya di paroki ini, antara lain Legio, mengajar di sekolah, membagi Komuni di rumah sakit dan lingkungan, tugas sakramentali, menemani OMK, kunjungan rumah, ke stasi-stasi, dan tugas lainnya.
Ketika saya bertugas, yang selalu saya lakukan adalah senyum, salam, dan sapa. Saya mengutip kata-kata itu dari seorang pastor yang saat ini sekomunitas dengan saya. Ia juga pernah berkarya di Paroki St. Monika BSD. Ia selalu menciptakan surga kecil dan guyub dalam melayani umatnya. Bukankah itu yang dihadirkan Yesus ketika berkarya dalam perutusan-Nya? Saat saya bisa dan berusaha membuat mereka tersenyum dan senang, di situlah saya bisa menghadirkan “Allah kecil” bagi umat yang saya layani. Saat saya berpastoral dan berinteraksi dengan umat, di situlah saya belajar dan bisa mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap kehadiran saya. Dari reaksi mereka, saya pun bisa belajar bagaimana harus bersikap.
Saat saya melakukan kunjungan dan mendengar cerita, sharing, bahkan keluhan mereka, saya pun belajar menjadi pendengar. Dengan mendengarkan maka saya tahu apa yang diharapkan umat dari Gerejanya. Inilah pelajaran yang baik bagi saya ketika nanti saya ditahbiskan (amiiiiiinnnn....). Ketertarikan saya menjadi seorang biarawan karena ada kepuasan batin yang saya dapatkan ketika saya berbuat baik dan membawa “Allah kecil” kepada orang lain, entah itu umat, frater-frater lain, para pastor, dan bahkan pastor-pastor sepuh. Ketika senyuman itu lepas dari wajah mereka, di situlah saya merasakan kebahagiaan. Bahkan saya pun pernah meneteskan air mata ketika melihat pastor-pastor sepuh yang masih mau berjuang untuk hadir dan ikut dalam kegiatan rohani bersama para frater. Luuaarr biasa!
Keluarga baru ini menjadikan saya semakin percaya diri (karena di tempat saya bertugas sekarang, saya diharuskan untuk memberi renungan-renungan). Mereka menegur saya ketika saya berbuat salah (dulu saya keras kepala), membuat saya tahu keterbatasan dan kelebihan saya dalam berpastoral (dulu saya beranggapan saya bisa melakukan semua hal), dan terutama guyon-guyonan di antara kami (para frater dan pastor). Sukacita yang saya alami ini bukanlah tanpa konflik. Konflik yang terjadi dalam diri saya maupun dengan orang lain mengajarkan kepada saya, bahwa dengan konflik, saya bisa mengambil sikap dan belajar mengampuni.
Hal lain yang membuat saya senang adalah saya bisa makan sepuasnya dan tidak ada yang melarang. Masak frater dan pastor sudah tidak boleh pacaran dan punya istri, makan apa-apa juga tidak boleh sih... hahahaha....
Mengejar Impian
Perjalanan panggilan untuk masuk biara membuat saya bisa mengakui, bahwa dulu saya adalah orang Farisi yang hanya melakukan kewajiban agama, tapi tidak menghayati iman kekatolikan. Saya tidak tahu berterima kasih kepada orangtua; saya kerap membuat mereka kecewa. Saya cenderung tidak peduli dengan orang lain, dan cuek terhadap orang-orang yang menegur saya. Dan akhirnya, Tuhan sendirilah yang menegur saya.
Tetapi, dengan “kemurkaan”-Nya itu, saya dikembalikan bahkan digerakkan untuk menghadirkan keselamatan bagi orang lain di mana keselamatan itu sudah saya peroleh terlebih dahulu. Saya menyadari perjalanan panggilan saya masih panjang dan saya masih terus berusaha melakukan yang terbaik bagi diri saya maupun Ordo Salib Suci.
Dengan sangat, saya memohon bantuan doa-doa segenap warga Paroki St. Monika BSD agar saya berhasil mengejar impian saya ini. Yang paling saya harapkan adalah saya bisa ditahbiskan menjadi imam. Saya mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, selebihnya akan ditambahkan oleh Dia yang mempunyai hak atas hidup saya.
Oleh Fr. Evodius Karunia Lembaga, OSC
Fr. Evo adalah putra pasutri Daniel Lembaga dan Rusmala, lulus dari SD-SMA St. Ursula BSD, S1 Ekonomi Binus, dan S1 Filsafat Unpar. Saat ini, ia sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Kristus Raja Kuningan, Cigugur, Jawa Barat.
Manusia diberi kehendak bebas karena Allah menghendaki pengabdian dan kesetiaan yang tulus. Hukum Taurat yang diberikan melalui Musa tidak membuat umat Israel setia kepada Sang Pencipta; kemunafikan merajalela, mereka hanya datang pada Allah saat mengalami kegagalan, menderita atau mendapat bencana; maka Allah mengisi nurani umatNya dengan pengenalan akan Dia.“Beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yer 31:33-34).
Allah selalu melimpahkan berkat bagi semua ciptaanNya, namun sukacita dan kelimpahan bukanlah suasana yang kondusif bagi pengajaran Tuhan; belajar dengan ‘bonus’ penderitaan lebih mudah dipahami dan melekat dalam hati! Maka Allahpun melakukan metode ini dengan teladan pengorbanan AnakNya yang mencapai puncaknya di kayu salib! Kerendahan hati, kerelaan dan kesetiaan dalam menanggung penderitaan sesuai kehendak Bapa akan berbuah manis pada waktunya! Yesus memberi teladan bahwa kemuliaan tertinggi hanya bisa dicapai dengan ketaatan menderita sesuai kehendak Bapa!Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, (Ibr 5:7-9).
Buah kebaikan yang tumbuh dari penderitaan bukan hanya berguna bagi diri sendiri, tapi juga bagi banyak orang. Pada puncaknya, kematian justru menjadi awal tumbuhnya biji-biji ketekunan untuk menjadi buah kebaikan berikutnya. Kalau kita percaya bahwa Allah adalah sumber hidup dan kasih, apakah kematian masih perlu ditakuti? Bukankah Allah yang menciptakan kehidupan dan juga berhak menghukum dan memusnahkannya? Walaupun sebagai manusia Yesus juga ngeri menghadapi kematian, namun Dia tetap konsisten memilih melakukan kehendak Bapa untuk memuliakan namaNya daripada sekedar menyelamatkan diri sendiri.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. (Yoh 12:24-27).
Kematian akan dialami oleh setiap orang, hanya soal waktu; tapi kenyataannya kita sering gamang dan segan membicarakannya, apalagi menghadapinya. Namun Roh Kudus akan menghibur dan menguatkan apabila kita berdoa kepadaNya! Bukankah yang mati hanyalah tubuh yang fana? Bukankah keselamatan jiwa jauh lebih berharga?
Dengan ‘mengoyakkan’ hati dan bukan pakaian kita, niscaya pantang dan puasa ‘skala kecil’ dalam masa prapaskah ini semakin mendekatkan diri kepada Bapa, semakin berpasrah kepadaNya, semakin mampu memahami dan setia pada kehendakNya, dan pada akhirnya berbuah nyata dalam kasih dengan semakin bersyukur dan peduli pada sesama yang membutuhkan...
Minggu ini kita merayakan dua tema kontradiktif dari kehidupan Yesus, yakni Kemuliaan dan PenderitaanNya. Tema pertama ditampilkan dengan sorak-sorai mengelu-elukanNya sebagai Raja ketika Ia memasuki Yerusalem; tema kedua, penderitaan yang sangat tragis atas karya perutusan-Nya: Dia harus mati di salib! Sejak awal Yesus sadar bahwa Ia harus mengalami penolakan dari para pemimpin, menderita di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Tiga kali hal ini diberitakannya kepada para murid, tetapi mereka belum dapat menerimanya. Kesetiaan, kepasrahan dan kebulatan hati untuk menderita demi melakukan kehendak Allah adalah yang paling utama bagi Hamba Yahweh. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. (Yes 50:6-7).
Maut dan penderitaan masuk kedalam dunia karena dosa. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Allah, sekaligus juga merusak hubungan dengan sesama dan dengan dunia ini. Pesan yang ingin disampaikan dalam perayaan Minggu Palma ini mengingatkan kita, bahwa Kristus telah memberi teladan rela menderita-sengsara dan mati di kayu salib untuk mengatasi dan mengalahkan persoalan dosa dan akibat dosa itu. Sebagai manusia, Yesus juga mengalami ketakutan dan merasa ditinggalkan, namun ketaatan untuk melaksanakan tugas perutusanNya sesuai kehendak Bapa mengalahkan semua hambatan dalam menyempurnakan pengurbananNya yang telah membawa keselamatan bagi dunia!Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkaumeninggalkan Aku?". Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci Allah!" (Mrk 15:33-34,37-39).terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak
Yesus tidak membela diri agar rencana dan kehendak Bapa terlaksana. Dia yang tidak berdosa rela melaksanakannya, karena Ia mau memberi teladan dan bahkan menemani kita untuk memberi kekuatan.Yesus tidak mau menunjukkan keinginan pribadi-Nya, sekalipun ia mampu; karena itulah Allah meninggikan namaNya di atas segala nama. Sengsara dan penderitaan yang dialami Yesus merupakan wujud ketaatan dan sikap berserah-Nya kepada kehendak Allah, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dlm keadaan sbg manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya & taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia & mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dlm nama Yesus bertekuk lutut segala yg ada di langit & yg ada di atas bumi & yg ada di bawah bumi, & segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11).
Sebuah pengurbanan yang sempurna, yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal-budi, bukan karena tidak rasional, melainkan karena melampaui/diluar batas akal-budi. Semoga pantang dan puasa dalam masa prapaskah ini dapat menumbuhkan solidaritas kita untuk semakin menghayati Karya Agung pengorbanan Kristus, sehingga menimbulkan rasa syukur yang nyata dalam aksi peduli pada sesama yang membutuhkan
Mengasihi berarti menghendaki kebaikan dan kebahagiaan bagi yang dikasihi dan sebaliknya tidak menghendaki celaka menimpa orang yang dikasihi; melimpahi segala yang baik dan mencegah agar tidak tertimpa celaka! Begitulah kasih Allah yang sempurna. Ketika umatNya melakukan kekejian, memberontak tidak memperhatikan hukumNya, berkali-kali Dia mengutus para Nabi untuk mengingatkan umat kesayanganNya itu, namun mereka diejek, dianiaya dan bahkan dibunuh; oleh karena itu Allah menggerakkan orang Kasdim menghukum dan menawan mereka sebagai budak. Mereka membakar rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api, sehingga musnahlah segala perabotannya yang indah-indah. Mereka yang masih tinggal dan yang luput dari pedang diangkutnya ke Babel dan mereka menjadi budaknya dan budak anak-anaknya sampai kerajaan Persia berkuasa. (Taw 36:19-20).
Allah tidak menghendaki kemusnahan umatNya, karena itu setelah masa penghukuman itu berlalu, kembali Allah memakai tangan Raja Persia yang tidak mengenalnya untuk mengembalikan umatnya itu dari pembuangan. Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu utk menggenapkan firman yg diucapkan oleh Yeremia, shg disiarkan di seluruh kerajaan Koresh scr lisan & tulisan pengumuman ini: "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku utk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yg terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya, menyertainya, & biarlah ia berangkat pulang! (Taw 36:22-23).
Allah tidak membiarkan umatNya hilang musnah karena dosa. Maut sebagai akibat hukuman dosa yang tidak mungkin diselesaikan oleh usaha manusia ditebusnya sendiri melalui pengorbanan Yesus Kristus, Sang Putra tunggal terkasih untuk memulihkan harkat manusia sesuai rancangan semula sebagai anak Allah!Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yoh 3:14-17).
Walaupun tidak layak dan tanpa jasa, namun dengan kasih yang sempurna Allah berkenan menebus hidup kita dan menganugerahi kita menjadi anakNya. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan - dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. (Ef 2:4-8).Kasih yang sempurna, yang tidak mungkin bisa kita balas selain dengan bersyukur dan berserah diri seutuhnya kepadaNya