Pada hari ini kita bertemu dengan perumpamaan seorang pemilik kebun anggur yang memperkerjakan beberapa orang pada jam yang berbeda dari jam 6 pagi, sampai jam 5 sore, dan semuanya diberi upah sama satu dinar. Yang bekerja dari pagi protes karena merasa sudah bekerja lebih lama. Dan pemilik kebun anggur itu menjawab bahwa yang diberikannya sudah adil karena sesuai janjinya diawal, dan bukankah ia bebas memberikan sesuka hatinya.
Seringkali perumpamaan ini menimbulkan perasaan tidak adil di dalam hati kita, karena bukankah seharusnya yang bekerja lebih banyak juga mendapat upah lebih banyak? Tetapi perumpamaan ini bukan bercerita tentang hukum ekonomi dunia, melainkan bagaimana kasih Allah bekerja pada diri manusia, sehingga ukuran Allah-lah yang dipakai bukan ukuran manusia.
Pertama: Bila dalam perumpamaan ini yang dimaksud pemilik kebun adalah Allah Bapa, upah seperti apakah yang akan diberikan-Nya? Dalam bacaan pertama dikatakan Allah akan memberi pengampunan dan belas kasih yang berlimpah-limpah. Dan dalam Mazmur dinyanyikan bahwa Allah: “pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya—baik kepada semua orang, dan penuh rahmat”. Jadi upah yang lebih besar mana lagikah yang dapat manusia harapkan dari Allah yang sangat murah hati itu? Dan sebaliknya, bukankah keinginan mendapatkan lebih itu timbul dari iri hati dan keserakahan manusia, sehingga pantaskah manusia yang iri hati dan serakah berada di surga?
Kedua: Kalaupun Allah Bapa harus menuruti keinginan manusia untuk memberi lebih kepada yang bekerja lebih keras, akan jadi apakah surga kelak? Tempat beberapa orang yang menyombongkan diri akan banyaknya pelayanannya, sementara yang lain menjadi minder karena tidak punya kesempatan melayani Tuhan (dan kita mungkin salah satunya)? Rasanya bukan seperti itulah gambaran surga yang dijanjikan Yesus.
Ketiga: Bukankah gambaran kerajaan Allah ini menjadi tepat persis seperti yang Yesus lakukan? Yaitu selalu mendekati, melayani dan duduk bersama dengan para pemungut cukai, pelacur dan pendosa?
Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang berpikir untuk menunda saja pelayanannya mulai dari jam 5 sore (usia tua)? Pertama dalam kisah hari ini, Allahlah yang keluar mencari pekerja, bukan manusia yang datang melamar kerja, sehingga pada orang yang menolak tawaran kerja Allah di pagi hari, bisakah ia mendapatkannya lagi? Kedua, bagi yang telah bekerja sejak awal, bukankah Yesus berkata: “Kerajaan Allah (sudah) ada diantara kamu” (Luk 17:21)




