Baik Bacaan Pertama maupun Injil bercerita tentang kebun anggur. Dalam setiap cerita, Tuhan sebagai pemilik kebun anggur telah memberikan kondisi tanah yang baik, perlengkapan cukup dan bibit anggur pilihan, bahkan perlindungan untuk kebun anggur-Nya. Tapi kemudian kebun anggur itu tidak memberikan buah yang baik kepada-Nya, baik karena kebun anggur berbuah buruk, ataupun karena penggarap-penggarapnya tidak memberikan buah yang baik kepadanya.
Ada hukuman untuk kegagalan memberikan buah yang baik itu. Kebun anggur yang tidak berbuah baik akan ditinggalkan dan dibiarkan hancur, sedang para penggarap yang tidak memberikan hasil yang baik akan dibinasakan, lalu kebunnya diberikan kepada orang lain. Mendengar akan adanya hukuman ini mungkin memberatkan hati kita, karena merasa belum banyak berbuah bagi Tuhan. Dan memang pertanyaan tentang: Apakah kita sudah cukup berbuah baik kepada Tuhan, seringkali muncul dan mengecilkan hati kita.
Apabila kita harus berbuah banyak dan baik, apakah itu berarti kita harus mendermakan semua harta kepada orang miskin? Atau apakah kita harus sangat aktif melayani? Lalu bagaimana dengan hidup dan pekerjaan dan keluarga kita? Dan juga, apakah kita tidak berbuah apabila saat ini sedang menganggur? Lalu bagaimana kalau sudah bekerja tetapi tidak sukses di tempat kerja?
Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin sering kita jumpai, atau kita pertanyakan pada diri kita, tetapi sebenarnya pertanyaan-pertanyaan diatas berasal dari sudut pandang yang salah. Karena kemampuan ataupun ketidak mampuan untuk menghasilkan buah bukanlah semuanya 100%. Dalam kedua cerita, kita bisa mendapati bahwa pemilik kebun anggur, yang adalah Allah, menanam bibit (yang baik), mencangkul/menggemburkan tanah, membuang batu-batu, bahkan melindungi kebun anggur. Jelas jika pohon anggur itu berbuah baik, itu karena Allah juga turut bekerja begitu keras di situ.
Begitu juga dengan kesuksesan kita, yang datang bukan melulu dari kemampuan kita sendiri, tetapi dari Roh Allah yang turut bekerja dalam diri kita. Ia telah menjaga kesehatan, memberi kepandaian, kekuatan, dukungan keluarga yang baik, bahkan komunitas serta Gereja-Nya kepada kita.
Jadi buah apakah yang bisa kita hasilkan, dan yang Tuhan inginkan? Yang diinginkan adalah buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Yang bila kita sungguh hasilkan, maka setiap orang yang berdekatan dan berjumpa dengan kita akan merasakan kebaikan Tuhan di dalam diri kita. Bahkan sebenarnya Allah juga telah menanamkan Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita, sehingga yang perlu kita lakukan adalah selalu mendekat kepada-Nya, dan mentaati bisikan lembut Roh-Nya dalam hati kita. Dan mungkin, saat kepribadian dan karakter kita mulai berubah, kelancaran dan kesuksesan dalam hiduppun akan menyertai kita.




