Allah yang berbelas kasih tidak membalas sesuai kesalahan walaupun Ia menghajar orang yang dikasihiNya. Jauh sebelum masa pembuangan ke Babel, pada jaman Raja Uzia/Yotam/Ahas/Hizkia, Allah telah merencanakan pengampunan bagi umat Israel yang dianggap sudah menjalani hukuman dalam pembuangan; Ia berfirman melalui nabi Yesaya yang bernuat bahwa Allah mengurapi Koresh, raja Persia yang tidak mengenal Allah, untuk mengembalikan umatNya dari penderitaan dalam pembuangan di Babel.Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup: Oleh karena hamba-Ku Yakub dan Israel, pilihan-Ku, maka Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (Yes 45:1, 4-6).
Hampir semua orang harus memainkan peran ganda dalam menjalani kehidupan ini, misalnya: sebagai suami dan ayah, sebagai ibu dan istri, sebagai anak dan siswa, sebagai karyawan dan warganegara, dst. Dalam kekuatiran dan kesibukan akan banyaknya kewajiban yang tidak sebanding dengan terbatasnya waktu yang tersedia, manusia mencoba mencari cara yang efektif dan efisien untuk menyelesaikannya. Tugas dan kewajiban dipilah-pilah sesuai kategori agar bisa dikelola dengan lebih baik. Cara berpikir sekuler ini ternyata dari aspek lain berpotensi menciptakan komplikasi dan sumber perpecahan. Tuhan mengajar kita untuk berpikir secara utuh saat dijebak dengan pertanyaan yang dilematis. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. (Mat 22:17-21). Konsep yang sama telah dipakai oleh Mgr. Soegijapranata dengan semboyan â??seratus prosen Indonesia dan seratus prosen Katolikâ?? yang berhasil memompa semangat patriotisme umat katolik Indonesia pada masa perjuangan sekaligus memupus kecurigaan elemen anak bangsa yang lain.
Akhirnya, kesadaran akan kebaikan Allah yang tiada tara, bahwa semuanya itu bukan karena jasa manusia melainkan hanya karena kasih karuniaNya, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah senantiasa berdoa dan bersyukur dalam setiap langkah hidup dimana Allah selalu berperan didalamnya, seperti yang disampaikan Santo Paulus kepada jemaat di Tesalonika:Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. (1Tes1:2-3).




