Yeh 33: 7-9; Mzm 95: 1-2. 6-7. 8-9 (8); Rom 13: 8-10; Mat 18: 15-20
Hari ini Yesus berkata: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.”, bahkan dalam bacaan pertama dikatakan bahwa apabila kita tidak memperingati orang jahat atas kesalahannya, maka kita juga akan dituntut pertanggungan jawab atas nyawanya. Rasanya ini adalah tugas yang sangat sulit, malah bisa-bisa kita dimusuhi banyak orang karena bersikap kasar dengan memperingati mereka.
Tetapi, apakah benar demikian yang dimaksudkan Tuhan dalam diri kita? Dan apakah yang sebenarnya menghalangi kita untuk memperingati kesalahan orang-orang yang kita kenal? Sebenarnya penghalang untuk memperingati kesalahan orang lain, adalah pada seberapa dekat kita dengan orang tersebut. Ambilah contoh hubungan antara kita dengan orang tua, mungkin bukan hanya ratusan tetapi sudah ribuan kali orang tua memperingati kesalahan bahkan memarahi kita, tetapi apakah kita menjadi begitu marah dan memutuskan hubungan dengan orang tua? Tentunya tidak, karena hubungan kasih antara kita dengan orang tua jauh lebih kuat daripada kekesalan sesaat. Kuncinya adalah: Orang tua selalu mencurahkan kasih dan perhatian sepenuhnya kepada anak-anaknya, bahkan dengan rela berkorban bagi anak-anaknya, bahkan bilapun anak-anaknya tetap saja melakukan lagi kesalahan yang sama terus menerus.
Tunggu sebentar.... bukankah semuanya itu adalah yang selalu dilakukan Yesus, dan yang selalu dimintanya dari kita, yaitu “kasih” dan “kerelaan berkorban”, bahkan sampai “tujuh kali tujuh puluh kali”? Jadi mungkin karena memang kebanyakan hubungan-hubungan kita dengan orang lain, hampir semuanya berdasarkan asal kenal saja, asal tidak mengganggu saja, atau asal menguntungkan diriku saja, karenanya kita merasa tidak mungkin bisa melaksanakan apa yang diminta Yesus pada hari ini, yaitu untuk memperingatkan kedosaan saudara kita.
Tetapi bagaimana kalau sesudah kita peringati saudara kita tetap saja membandel, sedangkan dalam Kitab Suci dikatakan apabila ia tetap membandel maka: “pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”, apakah Yesus meminta kita memutuskan hubungan dengannya? Masalahnya adalah Yesus justru selalu mendekati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan pemungut cukai, dan persis seperti itulah pula yang akan kita lakukan. Karena bacaan-bacaan hari ini sebenarnya adalah tentang relasi yang penuh kasih dengan saudara kita, dan Yesus tidak ingin ada sedikitpun dosa yang mengganjal diantaranya, karena justru hari ini Ia berkata: “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Oleh karena itu, seperti yang dinyanyikan Mazmur hari ini: “Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba”, marilah kita mulai membereskan kembali semua hubungan kita dengan saudara-saudara kita. Karena disitulah justru Tuhan berada dan mendengarkan doa kita




