[..] "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat 22:37-40).
Tentu hukum Allah tersebut tidak asing bagi semua pengikut Kristus, tapi benarkah bahwa semua yang sudah terang benderang itu mudah dilakukan? Apa bedanya hukum yang pertama dan kedua? Apakah maksudnya mengasihi Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu? Apakah kita sudah melakukan hukum Allah apabila setiap hari sudah bersembah sujud berdoa dengan mengucap syukur dan mohon berkatNya dengan nyanyian puji-pujian? Apakah kita sudah melakukan kehendakNya kalau setiap minggu sudah memberikan persembahan atau kolekte di gereja?
Keberpihakan Allah kepada orang kecil sangat nyata, bahkan Sang Pengasih itu tak segan mengancam dengan murka yang hebat: "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. (Kel 22:21-24).
Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, ahli Taurat yang sudah faham inti hukum Allah â??kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiriâ? itupun masih mencari alasan untuk membenarkan diri dengan bertanya â??Dan siapakah sesamaku manusia?â?
Mustahil orang bisa mengasihi Allah tanpa mengasihi sesamanya. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1Yoh4:20).
Allah menunjukkan bahwa hubungan kasih dengan sesama menjadi prasyarat untuk mengasihi Dia!Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.(Mat 5:23-24).
Saat orang Israel dengan â??seriusâ?? berpuasa dan merendahkan diri dihadapan Allah, bahkan berani â??protesâ??: "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Tuhan menjawab: â??Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!â?; apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. (Yes 58: 3,6,7,10).




