Hari ini kita disajikan sebuah perumpamaan yang tak kalah menarik dari yang sebelum-sebelumnya. Dikisahkan ada seorang ayah yang meminta anaknya untuk bekerja di kebun anggur, anaknya kemudian menjawab “Baik, bapa” (menarik sekali bahwa kata aslinya adalah: ????????: Eo kyrie, Ya Tuhan)tetapi ia tidak pergi, sedangkan anaknya yang lain sebaliknya menjawab: “Aku tidak mau”, tetapi kemudian ia menyesal dan pergi juga (ke kebun anggur).
Sebenarnya Yesus menujukan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi yang mempertanyakan kuasa mengajar Yesus. Tetapi untuk lebih memahaminya, marilah kita melihat bagaimana sudut pandang orang yahudi terhadap kisah ini: Bagi mereka yang sangat memegang hukum taurat, anak yang berkata tidak pada ayahnya adalah jelas-jelas sangat bersalah, karena ia melanggar hukum ke-4 dari 10 perintah Allah, yaitu: Hormatilah ayah ibumu. Tetapi yang menjadi pertanyaan Yesus bukanlah, siapakah yang bersalah... Melainkan: “Siapakah yang melakukan kehendak ayahnya?” Tentu saja jawabannya adalah:anakyangpergikekebunanggur.Pesan penting apakah yg ingin disampaikan Yesus dgn perumpamaan ini?
Kiranya cukup jelas bahwa Yesus mengkritik orang-orang Yahudi yang lebih mementingkan otoritas mengajar Yesus daripada isi pengajaran serta tindakan pelayanan Yesus. Dalam perumpamaan ini Yesus mengajarkan bahwa bukan sekedar status sebagai umat Tuhan yang menyelamatkan manusia, tetapi pada melakukan kehendak Allah. Dan rasanya apa yang diajarkan Yesus patut menjadi bahan permenungan kita juga sebagai umat-Nya: sudah seberapa banyakkah kita melakukan kehendak Allah dalam hidup kita? Perlu disadari bahwa pada umumnya manusia dengan mudah larut oleh berbagai urusan sehari-hari, oleh karena itu kita perlu untuk refleksi setiap hari. Seperti yang dinyanyikan dalam Mazmur hari ini “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”
Bahkan Paus kita juga turut memperhatikan hal ini, seperti yang dikotbahkan olehnya baru-baru ini: “Kita menghadapi banyak tantangan dalam hidup: kemiskinan, penderitaan, penghinaan, perjuangan untuk keadilan, penganiayaan, sulitnya pertobatan harian, upaya untuk tetap setia pada panggilan kita untuk menjadi kudus, dan banyak lainnya. Tetapi jika kita membuka pintu kepada Yesus dan menjadikan Dia bagian dari kehidupan kita, berbagi suka dan duka dengan-Nya, maka kita akan mengalami kedamaian dan sukacita yang hanya Tuhan, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, dapat memberikannya.” (Paus Fransiskus, World Youth Day, 2014)




