Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadakan safari darat di Sumatra, satu kelompok nelayan di daerah Way Lunik, Lampung, mengaku kecewa, karena presiden tidak blusukan ke perkampungan mereka. Padahal para nelayan sudah bersiap menyampaikan berbagai keluhan, terkait pembuangan limbah industri yang berdampak pada kian sedikitnya ikan yang bisa mereka tangkap.
Safari seorang presiden sejatinya bukan hal baru. Presiden Suharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, BJ Habibie, sampai Susilo Bambang Yudhoyono sudah terlebih dulu melakukannya. Tetapi ada perbedaan menonjol antara safari Jokowi dengan safari presiden sebelumnya, terutama Presiden Suharto. Perbedaan itu terletak pada cara kehadiran dan cara penyambutan. Dulu suasananya lebih bersifat formal, sekarang lebih informal. Dulu yang lebih menonjol adalah pihak yang disambut [upacara, seragam penyambut, acara resmi dll]. Tetapi sekarang, sebagaimana terlihat dari kekecewaaan nelayan, orientasinya sudah bergeser. Minimal para nelayan tadi merasa berhak untuk lebih diperhatikan. Di balik itu ada keyakinan baru bahwa bukan presidennya yang penting, tetapi rakyat dan persoalannya.
Gereja Katolik memiliki skedul resmi dalam kalender liturgi, selama Adven, untuk bersama-sama bersiap menyambut kedatangan Kristus. Menjadi pertanyaan bagi kita, dengan contoh sederhana di atas, dalam tradisi Gereja kita, bentuk sambutan seperti apa yang lebih menonjol?
Teks bacaan pertama dan bacaan Injil cenderung membawa kita pada tafsir sambutan formal. Bacaan pertama dari Nabi Yesaya menyebutkan… Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya." Sebagian dari teks itu dikutip oleh Markus, yang juga dibacakan pada Bacaan Injil.
Teks itu cenderung membawa kita pada tafsir: kita harus bersiap, karena yang (akan) datang adalah tokoh yang agung. Maka jangan kecewakan Dia dengan jalan yang tidak lurus dan tidak rata. Dalam cara pandang ini yang penting adalah Dia yang harus disambut.
Tetapi bila mencermati bacaan kedua, dari Surat Rasul Petrus, langsung terasa bahwa Gereja punya pesan berbeda. Benar bahwakita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Tetapi yang tidak kalah penting adalah, Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Teks ini jelas mau mengatakan bahwa mempersiapkan kehadiran Tuhan bukan pertama-tama karena Tuhan perlu disambut. Tetapi lebih pada makna eskatologis (akhir jaman), yakni jangan sampai kita pada kondisi tidak siap ketika saatnya tiba. Mari bersiap, mari memantas diri.




