Dalam hal ekspresi, saya masuk kelompok orang yang “mati rasa”. Ketika orang-orang di sekitar saya tiba-tiba bergoyang mendengar irama musik tertentu, maksimal saya hanya ikut mengetuk hitungan irama. Jika dalam konser orang ikut berteriak bernyanyi, maksimal saya hanya ikut menggumam dalam hati. Saya mati ekspresi. Pernah saya berjuang untuk ekspresif. Ikut menari sambil menyanyi. Tentu saja di satu tempat asing, tak ada yang mengenal saya. Tapi di belakang kepala seperti ada saya lain yang berteriak, “Ini bukan gayamu.”
Ternyata saya bukan alien, karena banyak orang yang seperti saya. Dan saya tertawa kecut ketika tentang hal ini seorang mantan pastor berkomentar, “Nggak usah jadi beban. Kamu begitu karena kamu katolik tradisional.” Menurut sang mantan pastor, pengikut katolik tradisional cenderung percaya pada ekspresi-ekpresi liturgis yang “sudah digariskan”. Berdiri, duduk, berlutut, wajah serius dan cenderung plain. Di luar itu agak kurang katolik.
Fakta tentang saya sendiri berikut olok-olok sang mantan pastor tiba-tiba muncul membaca bacaan pertama dan kedua hari ini. Kedua bacaan seperti berteriak mengejek, hayo lu… mana ekspresinya? Bacaan pertama, diambil dari Kitab Nabi Yesaya, memuat satu potongan lagu… Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran…. Jika bacaan pertama mengangkat istilah “bersukaria”, bacaan kedua mengangkat istilah “bersukacita”. … Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal.... Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan
Bahwa hari ini Gereja mengamanatkan sukacita dan sukaria, itu jelas. Tampaknya Gereja masih melanjutkan seruan pekan lalu. Adven bukan pertama-tama soal Tuhan, bukan soal Gereja, tetapi soal Anda dan saya. Tuhan sudah, sedang, dan akan selalu datang. Tuhan sudah, sedang, dan akan selalu bersama kita. Alasan Tuhan melakukan itu juga tetap, tak pernah berubah. Yang selalu berubah adalah kita, dengan kehidupan iman yang pasang surut. Hari ini kita dekat dengan Tuhan, besok, entah karena apa, kita menjauh.
Rasul Paulus memang sedikit risau tentang pasang surut kondisi iman itu, sehingga dia berpesan… Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi baik Rasul Paulus maupun Nabi Yesaya sama-sama menggarisbawahi alasan untuk bersukacita. Alasannya adalah yang disebutkan di atas, yaitu pakaian keselamatan, jubah kebenaran dan kepastian bahwa Tuhan akan menggenapi kesetiaannya.
Jadi, tampaknya kedua penulis suci tidak memberi banyak pilihan bagi kita, selain untuk bersukaria dan bersukacita, dengan alasan cinta dan kebaikan Tuhan yang sudah pasti. Nah, tolong bantu memikirkan, bagaimana sebaik-baiknya cara bersukaria dan bersukacita dalam iman, sebagaimana dimaksud kedua penulis tersebut




