Marilah Pergi, Kita Diutus!

Marilah pergi, kita diutus!
Hari Minggu Biasa XV
Bacaan 1 : Am. 7:12-15 Bacaan 2 Ef. 1:3-14 (Ef. 1:3-10) Bacaan Injil Mrk. 6:7-13
Setiap kali sebuah perayaan Ekaristi diakhiri, imam akan berkata: “Marilah pergi, kita diutus!”. Akan tetapi sudahkah kita menjadi utusan? Adalah normal bila kita merasa kesulitan melakukannya. Diutus secara umum berarti menyampaikan kabar gembira akan kasih karunia Allah, dan mengajak orang untuk berbalik kembali kepada Allah. Sayangnya tindakan ini seringkali malah mengusik mereka yang sudah merasa nyaman dengan hidup dan pendapat mereka sendiri, wajar saja bila diperingatkan mereka cenderung menolak, persis seperti yang dialami Amos, Yesus dan nabi-nabi lainnya. Ditambah lagi kita sendiripun sering berpendapat, biarlah tugas memperingatkan dan mengajar itu dilakukan oleh orang yang lebih ahli daripada diriku, karena aku belum tahu apa-apa. Tetapi disinilah kunci bacaan kali ini. Nabi Amos hanya seorang peternak dan pemungut buah ara, para rasul hanyalah nelayan sederhana. Mereka tidak kuliah teologi, ikut berbagai kursus Kitab Suci, ataupun seorang pemimpin umat profesional. Jadi rasanya bacaan kali ini memang ditujukan kepada kita yaitu umat kebanyakan. Bahkan Yesus menambahkan lagi: “jangan membawa apa-apa dalam perjalanan… roti, bekal, dan uang pun jangan.” Suatu pesan yang ekstrem, bagaimana mungkin bepergian tanpa membawa bekal? Apalagi kalau pada jaman sekarang mungkin Yesus akan menambahkan lagi: “Jangan bawa gadget, laptop, kendaraan, kartu kredit dan sebagainya”. Bagaimana mungkin kita hidup tanpa itu semua? Teringat kita akan perkataan Yesus: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat 6:27) Mengapakah kita kuatir bila tidak ada barang-barang itu di sekitar kita? Dan bukankah Yesus berkata bahwa kekuatiran itu tidak menambah hidup kita? Kiranya Tuhan ingin kita mengikuti Dia dengan melepas segala kekuatiran kita, dan bahkan melepas semua penyebab kekuatiran kita: karir, tabungan, investasi, dsb karena ketentraman memilikinya adalah palsu bagi Tuhan. Pada saat kita dapat melepaskan itu semua, pada saat itulah bila imam berkata: “Ite missa est” (Marilah pergi, kita diutus), kita dapat menjawab dengan yakin: “A-min!” Dan saat itulah muzizat Tuhan mulai dapat terjadi, saat kita bisa melepaskan kekuatiran dan kelekatan kita dengan berbagai benda dan janji yang selama ini kita anggap baik, tetapi sebenarnya mengalihakan fokus kita dari Tuhan. Marilah pergi, kita diutus!






Data statistik Umat Katolik sedunia saat ini kurang lbh mencapai 1.229.000.000 (1,2 milyard), di mana sebanyak 48,75 % berada di benua Amerika, khususnya Amerika Latin, 26.37% di Eropa, 12,57% di Afrika, 11.24 % di Asia dan 0.72% di Oceania. Umat katolik itu tersebar di 5132 keuskupan atau di 270.893 paroki. Jumlah imam mencapai 414.313, yg terdiri dari 279.561 imam projo dan 134.752 imam religious (biarawan). Sementara jumlah biarawati mencapai 705.529, bruder mencapai 55.314 dan frater mencapai 56.924 (Dikutip dari Centerfor Applied Research in the Apostolate, Washington DC, USA). Data di atas belum termasuk umat Kristen lainnya, yg mencapai ratusan juta jemaat. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yg spektakuler Umat Kristen sedunia (Katolik dan Kristen lainnya) dalam 2000 thn, yg bermula dari hanya 12 murid. Perkembangan ini bkn cuma karya manusia, tetapi karya Allah yg sungguh luar biasa. Bacaan injil hari ini (Mrk 4:26-34), menyampaikan perumpaan ttg Kerajaan Allah sbg “benih” (ayat 26-29) dan “biji sesawi” (ayat 30-32). Kerajaan Allah bkn dimaksudkan sebuah “pemerintahan atau wilayah”, melainkan “kebesaran dan kemuliaan Tuhan yg menguasai hidup manusia”. Melalui 2 perumpamaan itu, Yesus mau menjelaskan ttg hakekat Kerajaan Allah. Seperti benih, kerajaan Allah itu ditabur di dlm setiap manusia. Dia bertumbuh, mengeluarkan tunas, berbuah dan dipetik. Kerajaan Allah itu bertumbuh krn daya ilahi atauRoh Allah yg ada di dlm diri setiap manusia. Dgn demikian perkembangan kerajaan Allah itu lbh sbg karya Allah dp karya manusia. Kerajaan Allah itu juga diumpamakan sbg “biji sesawi”, yg disebut sbg “biji yg paling kecil dari segala benih yg ada di bumi” (ayat 30). Namun biji itu kemudian bertumbuh menjadi pohon besar, di mana burung-burung dpt bersarang dlm naungannya. Kerajaan Allah yg bermula dari 12 murid – seperti biji sesawi – namun kini mencapai milyaran umat, di mana mereka dpt menemukan “kedamaian, sukacita dan kebahagiaan”. Apa yg bisa kita petik dari 2 perumpamaan di atas ? 1) Pertumbuhan Kerajaan Allah, seperti ditunjukkan oleh data di atas, bukanlah semata karya manusia, melainkan karya spektakuler dari Allah sendiri. Allah yg memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan itu bisa terjadi. Maka, apapun peran kita dalam membangun dan mengembangkan kerajaan Allah di dunia ini tdk boleh membuat kita “menepuk dada”. Seperti pemazmur, kita hendaknya berkata : “non nobis Domine, non nobis, sed Nomini Tuo da gloriam” ( bukan kpd kami ya Tuhan, bkn kpd kami, tapi kpd NamaMulah beri kemuliaan) (Mzm 115:1). 2) Seperti biji yg semula kecil lalu bertumbuh menjadi besar, hendaklah demikian juga perkembangan hidup iman kita. Kedewasaan iman dpt diukur dari seberapa besar keterlibatan kita dlm pembangunan kerajaan Allah. Tidak peduli, berapa kecilnya peran kita, namun jika kita turut mengembangkan kerajaan Allah, maka kita dinilai “berarti” di mata Allah. Maka, 2 perumpamaan dlm injil hari ini menyadarkan kita bhw Roh Allah senantiasa berperan di dlm pembangunan kerajaan Allah dan kita diharapkan turut ambil bagian dlm pembangunan itu.!