A house, but not a home kata orang Inggris. Suatu rumah, barulah lebih terasa sebagai rumah bila anggota-anggota keluarganya secara rutin berkumpul untuk makan bersama. Dan suatu keluarga akan rapuh, mengalami pelapukan dari dalam, bahkan runtuh apabila tidak pernah lagi berkumpul untuk makan bersama. Dan bukan itu saja, walaupun sering berkumpul, suatu keluarga perlu juga untuk menyingkirkan berbagai gadget seperti tv, handphone, bahkan komputer yang sebenarnya menghalangi kehangatan dan keakraban dalam keluarga. Hampir sama seperti itu pula kita berkumpul setiap minggu di gereja untuk merayakan Ekaristi bersama. Karena kita merayakan Ekaristi bukanlah sekedar untuk memenuhi kewajiban dalam Lima Perintah Gereja, tetapi karena mengikuti Ekaristi adalah berkumpul dan makan bersama dalam nama Yesus, sebagai umat yang disayangi-Nya. Dan dengan semakin sering menghadiri perayaan Ekaristi, berarti semakin sering pula mengalami kehadiran Kristus dalam Ekaristi, yang akan membuat kita makin dekat, bahkan bisa bersatu dalam Tubuh-Nya, untuk disucikan, diteguhkan dan dimampukan untuk menjadi umat-Nya yang terbaik. Dalam bacaan I, kita mendengarkan kisah tentang “Upacara Pengikatan Perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel”. Dimana di dalamnya nabi Musa melambangkan pengikatan perjanjian itu dengan menuangkan darah korban persembahan kepada mezbah dan umat Israel. Dan dari darah yang satu dan sama itu, ingin dilambangkan terjadinya persatuan antara Tuhan dengan umat-Nya, dan dengan sesama bangsa Israel, dan upacara itu diakhiri dengan makan bersama. Pada bacaan II, Surat kepada orang Ibrani, mengatakan korban yang diberikan dalam upacara tadi hanyalah menyucikan secara lahiriah, akan tetapi korban yang diberikan Kristus, yaitu Tubuh-Nya sendiri, mampu menyucikan hati dan nurani, sehingga yang mendapatkannya akan dipantaskan sebagai umat-Nya. Oleh karena itu, baiklah kita memandang perkataan Yesus dalam Injil hari ini; “Ambilah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku” serta “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”, sebagai suatu hadiah dan karunia yang luar biasa dari Tuhan, untuk menyucikan hati dan nurani kita yang tidak layak serta berdosa ini, sehingga patut menjadi umat-Nya. Dan Tuhan, melalui Gereja-Nya yang kudus secara terus menerus memberikan berkat dari Tubuh dan Darah Putra-Nya itu. Marilah kita makin meneguhkan komitmen kita untuk terus merayakan dan menerima Ekaristi, yang merupakan hadiah terindah dari Kristus kepada kita. Dan tentunya juga dengan menyingkirkan segala bentuk penghalang dalam bentuk handphone dan berbagai alat lainnya. Karena: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? — dengan mengangkat piala keselamatan, dan menyerukan nama TUHAN” Maz 116:12-13 (Mazmur Tanggapan)




