Kutipan dari bacaan minggu ini: “Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” (Markus 4:26-27) Saat kita membaca Warta Monika ini, biasanya kita baru saja mengikuti misa. Dan kita bisa melihat ada beratus-ratus orang yang datang berkumpul mengikuti misa, termasuk kita. Belum lagi kalau kita membayangkan di keuskupan Agung Jakarta ini, ada berapa ribu orang yang berkumpul bersama untuk merayakan misa mingguannya. Siapakah yang menggerakan begitu banyak orang itu untuk mau bersusah payah dan meluangkan waktunya untuk pergi mengikuti misa? Apakah karena bapak Uskup telah menelpon kita, ataupun pastor sudah mampir mengundang kita? Tentunya bukan karena itu, tentunya Allah sendiri yang membuat Gereja-Nya menjadi begitu besar, dan terus bertambah besar. Persis seperti itulah Yesus menggambarkan bagaimana proses kerja seorang petani. Memang benar si petanilah yang mempersiapkan tanah dan menaburkan benih di tanahnya. Akan tetapi bagaimana caranya benih itu bisa tumbuh dan bahkan berbuah, sama sekali diluar kemampuan si petani itu. Begitupun dalam hidup kita, sejak dari muda kita telah menanamkan dalam pikiran kita berbagai keinginan, dan mungkin telah melakukan berbagai usaha untuk mewujudkannya, dan yang menarik, entah kita berhasil atau tidak, kita harus menyadari bahwa hasil yang kita dapat bukanlah seratus persen hasil usaha kita, akan tetapi karena berbagai kondisi dan kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Bagi kita, yang mengharapkan Kerajaan Allah itu bisa lebih terwujud lagi di dalam hidup kita, seringkali justru menghambat pertumbuhan Kerajaan Allah di dalam hati kita, dengan merasa kurang mampu, tidak punya waktu ataupun mempunyai berbagai keterbatasan lain, karena kita menganggap bahwa makin hadirnya Kerajaan Allah di hati kita adalah semata-mata karena usaha kita. Karena kita adalah biji sesawi yang kecil, tidak berharga dan berarti. Tetapi setelah terinspirasi bacaan minggu ini, baiklah kita mau berubah menjadi biji sesawi yang optimis, gembira, dan dengan hati penuh sukacita mengerjakan hal-hal yang kita mampu lakukan, dan tidak berkecil hati lagi dengan kondisi kita saat ini, karena “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” (Lukas 17:20) Bagaimana caranya suatu biji kecil dapat berkembang menjadi pohon yang besar memang adalah suatu muzizat. Dan tentunya Allah akan mengerjakan muzizat yang lebih besar lagi bagi kita yang mau percaya dan mengikuti perintah-Nya.




