PENTAKOSTA berasal dari bahasa Yunani “Pentekoste” artinya hari ke-50. Bagi Umat Perjanjian Lama Pentakosta adalah hari peringatan turunnya Taurat di gunung Sinai, yg jatuh pada hari ke-50 setelah mereka keluar dari Mesir. Pentakosta disebut juga Hari Raya Shavuot, yaitu Hari Pengucapan Syukur, di mana orang Israel mempersembahkan hasil panen pertama berupa gandum, roti dan buah-buahan ke Bait Allah. Sedangkan bagi Umat Perjanjian Baru, Pentakosta adalah hari peringatan turunnya Allah Roh Kudus, sekaligus Hari Ulang Tahun lahirnya Gereja, yg jatuh pada hari ke-50 sesudah Paskah. Secara teologis, Hari Raya Pentakosta mempunyai arti yang sama bagi Umat Israel dan Umat Kristen, yaitu hari peringatan karya Allah bagi Umat manusia. Turunnya Allah Roh Kudus menurut Injil Yohanes (Yoh 20:19-23), terjadi setelah peristiwa kebangkitan. Yesus menampakkan diri kepada para murid dan mengembusi mereka sambil bersabda : “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20,22). Sedangkan menurut Kisah Para Rasul terjadi sesudah Yesus naik ke surga, yaitu hari ke-50 sesudah Paskah. Peristiwa turunnya Roh Kudus ditandai dengan 3 hal : 1) Bunyi, seperti tiupan angin keras; 2) Lidah-lidah api; 3) Berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Angin keras menandakan kehadiran Roh Kudus yg selalu menggerakkan dan memberi semangat. Lidah api adalah simbol pembaharuan, pemurnian atau pengudusan. Sedangkan “berbicara dalam bahasa-bahasa lain” menandakan terjadinya perubahan besar dalam diri para rasul. Namun perubahan itu bukan saja dalam hal “berbicara”, melainkan juga sebuah hidup yg dipimpin oleh Roh dan menghasilkan “buah-buah roh, seperti : cintakasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri” (Gal 5,22-23). Bacaan injil hari ini menyebutkan peran Roh Kudus sebagai “Roh Kebenaran, yg akan memimpin murid-murid ke dalam seluruh kebenaran “ (Yoh 16,13). Apa itu kebenaran ? Sebuah pertanyaan yg pernah diajukan Pilatus kepada Yesus (Yoh 18,38a). Tidak mudah utk menjawabnya, karena tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Pada umumnya orang mendefinisikan kebenaran sebagai “kesesuaian antara pernyataan dan realitas”. Misalnya, saya mengaku berusia 40 tahun dapat dibuktikan dengan data pada KTP saya. Namun kalau mengatakan saya orang “katolik”, apakah cukup dengan menunjukkan data pada KTP bahwa saya beragama “katolik” ? Di sinilah timbul kesulitan berbicara tentang “kebenaran”. Ada yg mungkin “benar” menurut saya, tetapi “tidak benar” menurut orang lain. Coba saksikan acara debat di “Indonesia Lawyer’s Club”, di mana masing-masing pihak berusaha menyampaikan pendapatnya, yg bisa jadi bertentangan satu sama lain. Bandingkan juga dengan kesaksian pada sidang kasus korupsi akhir-akhir ini, yg membuat kita bingung, siapa yg benar, siapa yg bohong ? Lalu : apa ada “kebenaran” yg sejati ? Injil hari ini memberi kepastian bahwa ada kebenaran sejati. Kebenaran sejati adalah Firman Allah, karena Allah adalah Sumber Kebenaran Utama. Tidak ada kebenaran yg lebih utama daripada Kebenaran yg datang dari Allah. Dan Roh Kudus - Roh Kebenaran - akan “memimpin” kita ke dalam seluruh Firman Allah itu. Memimpin artinya membantu kita untuk memahami, mewartakan dan memberi kesaksian tentang Firman itu. Inilah pengakuan Yesus di hadapan Pilatus : “Aku datang ke dalam dunia ini, supaya memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yg berasal dari kebenaran, mendengarkan suaraKu” (Yoh 18,37). Inilah panggilan pokok setiap orang Kristen. Panggilan itu tidak mudah. Namun kita percaya, Roh Kebenaran akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran itu. Maka ini adalah doa kita di Hari Raya Pentakosta : “Datanglah ya Roh Kudus, perbaharuilah diri kami dan seluruh muka bumi”.




