24 Juni ini adalah Hari Raya Kelahiran S. Yohanes Pembaptis. Diantara semua nabi dan santo/santa, biasanya kita memperingati hari kematiannya bukan hari kelahirannya, dan mungkin hanya dua orang yang kita peringati hari kelahirannya, yaitu Yohanes Pembaptis dan Yesus. Oleh karena itu, pada jaman dahulu, setiap tanggal 24 Juni ini diperingati sebagai hari “Natal Kecil”, karena Yohanes Pembaptis lahir enam bulan sebelum kelahiran Yesus.
Mengenang Yohanes Pembaptis, seorang yang dikatakan Yesus sebagai: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Salah satu perkataan Yohanes Pembaptis yang penting adalah saat Ia melihat Yesus dan berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” (Yoh 1:36). Yohanes tidak berkata: “Lihatlah Yesus”, “Lihatlah Mesias”. Dan bahkan dialah satu-satunya orang yang memanggil Yesus sebagai Anak domba Allah. Dan kata-kata itu pula yang diucapkan imam saat mengangkat Sakramen Maha Kudus: “Lihatlah Anak domba Allah!”. Karena bagi orang Yahudi, anak domba adalah lambang pembebasan mereka dari perbudakan bangsa Mesir selama kira-kira 400 tahun. Adakah kita juga melihat Yesus sebagai Anak domba Allah, yang menebus dan membebaskan kita, seperti yang dilihat Yohanes? Ataukah kita melihat Yesus lebih sebagai tempat meminta belaka?
Kiranya sampai hari inipun Yohanes Pembaptis tetap menunjuk kepada Yesus sambil berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!”, dan bagi mereka yang percaya kepada-Nya, tidaklah akan membuat hidupnya menjadi percuma (bacaan pertama: Yes 49:4), dan akan membuat dirinya menerima keselamatan itu (bacaan kedua: Kis 13:26). Ataukah sebaliknya kita masih tetap seperti Zakharia yang memilih diam dan membisu karena masih belum sungguh yakin akan karya Allah di dalam dirinya? Sampai Zakharia mengamini nama anaknya: Yohanes atau Jehohanan dalam bahasa Aram yang artinya “Tuhan sumber karunia”, “Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah” (Injil Luk 1:64). Dan bila kita telah menyadari bahwa hidup kita adalah ternyata karunia dari Allah, dan bernyanyi dalam mazmur hari ini: “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Maz 139:14). Bukankah itu berarti kita yang mengimani Tuhan sebagai sumber karunia, kita juga adalah Yohanes pada masa kini, yang bertugas untuk “mempersiapkan jalan bagi Tuhan”, pertama-tama kepada diri kita sendiri, dan kemudian kepada orang-orang disekitar kita?




