Berbeda dengan Injil Sinoptik lainnya (Matius dan Lukas), Injil Markus tidak menjelaskan secara detail bagaimana Yesus memasuki kota Yerusalem dengan dielu-elukan oleh orang banyak. Pada awal cerita hanya dikatakan bahwa ada konspirasi dari para imam kepala yang mau menangkap Yesus. Peristiwa Minggu Palma merupakan tragedi tersendiri. Di suatu hari orang-orang mengelu-elukan rakyat banyak sebagai raja, di kemudian hari mereka meneriakkan salib, hukuman mati bagi Yesus. Demokrasi sering mengundang tragedi, bila tidak mengusung kebenaran. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa Allah berkomitmen mengasihi dan menyelamatkan manusia. Komitmen Allah seperti diusung Yesus seakan-akan rapuh oleh kekuasaan dari para imam dan pemerintahan penjajah Romawi.
Menghadapi kekuasaan orang per orang seperti kita menjadi rapuh. Lihatlah Petrus yang amat PD mau membela Yesus, yang malah menyangkap tiga kali sebelum ayam berkokok. Kita sebagaimana Petrus juga rapuh dalam situasi hidup yang sering tidak pasti, penuh ancaman dan kendala, hidup yang terbatas oleh panyakit dan usia. Menghayati dan mengalami hidup yang saat di tanah air makin tidak pasti beranikah tetap percaya bahwa Allah seperti disabdakan dan dibuat Yesus tetap mengasihi kita dalam keseharian hidup? Tidak mudah mengintegrasikan iman dan kepercayaan dasar kita bahwa Allah sungguh baik sehingga sebagai orang beriman kita tetap mampu bertahan untuk hidup dengan gembira dan optimis, karena memiliki pengharapan akan jalan keselamatan kita dalam kehidupan setiap hari. Artinya apapun yang terjadi dalam kehidupan kita masing-masing, yang terbaiklah yang terjadi pada kita, meskipun yang ”terbaik” bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Itulah yang membedakan antara orang beriman dan orang yang tidak beriman atau kurang beriman. Orang beriman mampu bertahan dalam segala cuaca kehidupan, baik itu sehat maupun sakit, untung atau rugi, senang maupun susah.
Kerapuhan manusia juga dapat dilihat dalam diri Yudas yang justru menyerahkan Yesus kepada para musuh-Nya untuk dilenyapkan. Menyingkirkan Yesus dalam pikiran dan kehidupan sama dengan membiarkan hidup dalam kegelapan, seperti kata-kata Yesus, ”Anak manusia akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Mrk 14: 21). Tanpa Yesus dalam kehidupan hidup tidak akan memiliki pengharapan, kasih, dan masa depan yang berarti hidup tanpa makna yang berakhir dengan kehancuran. Dengan demikian, peristiwa Minggu Palma menegaskan kembali komitmen Tuhan Sang Pencipta akan keselamatan hidup manusia orang per orang. Komitmen Tuhan menjamin hidup kita. Beranikah kita percaya bahwa hidup kita saat ini, apapun keadaannya, merupakan karya keselamatan Tuhan atas diri kita? Marilah kita percaya supaya kita tidak menjadi orang seperti Yudas! ***




