Menjadi saksi perkawinan, saksi perjanjian kerja sama bisnis, atau saksi di pengadilan sudah dialami oleh sejumlah orang di paroki kita. Tetapi, kalau “menjadi saksi Kristus” semua orang Katolik harus menjalaninya. Apa boleh buat! Itu yang dikatakan Yesus, “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Lukas 24: 46 – 48) Senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, sadar atau tidak sadar setiap hari kita semua “harus” menjadi saksi itu. Orang di sekitar kita akan mengatakan, “Dia orang Katolik!” Kesaksian itu memang tidak bisa dibuat-buat atau artificial. Lalu apa bedanya, kita sebagai orang Katolik dengan orang yang beragama Kristen atau agama lain? Mari kita jawab bersama-sama.
Menjadi Katolik berarti menerima Injil atau kabar gembira bahwa Allah itu mengasihi kita. Allah itu Bapak (atau Ibu) kita semua yang mengasihi dengan menciptakan dan menebus dari dosa kita. Kasih Allah itu tampak dalam hidup dan karya serta kebangkitan Yesus. Kabar gembira itu bisa kita baca Kitab Suci. Makanya Kita Suci itu harus sering kita dengarkan (dalam Misa) dan kita baca (sendiri) agar makin hari kita makin paham akan kasih Tuhan. Iman akan kabar gembira itu kita hayati dalam “sistem” (cara hidup) Gereja Katolik dengan para pemimpinnya, ajarannya, tradisinya, kebiasaan-kebiasaannya. Lewat hidup sesuai dengan ajaran, tradisi , perintah-perintah Gereja itu kita mengalami bahwa Allah itu sungguh baik. Yesus yang hidup dan wafat serta bangkit itu bukan hanya “dulu” terjadi tapi sekarang pun kita alami dalam sakramen ekaristi, sakramen tobat, dan sakramen-sakramen lain. Hidup yang mengimani Allah sebagai Bapak itu juga kita alami dalam hidup menjemaat (menggereja) dengan pemimpin yang menyatukan dari paus, uskup hingga pastor paroki dan pengurus lingkungan dan keluarga kita.
Bagaimana mengembangkan iman akan Kristus atau iman akan Injil itu? Itu memang menjadi tanggung jawab masing-masing orang Katolik. Menjadi orang saleh yang bukan hanya secara individual, tetapi juga secara sosial, karena memberi arti dan makna bagi orang lain sehingga orang lain “mengalami” Allah yang mahabaik itu dalam perbuatan-perbuatan baik kita. Bahwa untuk mewujudkannya (=menjadi serupa dengan Yesus), kita semua harus berusaha dan jungkir balik karena memang bukan barang mudah mewujud-nyatakan iman dalam kehidupan itu juga menjadi risiko setiap orang beriman Katolik dengan salib hidupnya masing-masing. Sudah cukup? Belum. Ada satu hal lagi. Orang Katolik mestinya hidup lebih bergembira dibandingkan dengan yang bukan Katolik, karena di samping mengimani Allah sebagai Bapak juga dapat menjumpai Yesus yang menebus kita dalam perayaan Ekaristi. Bila jatuh berdosa kita bisa datang menerima sakramen Pengampunan, karena berkat Yesus, kita akan diampuni, baik sekarang maupun nanti. Dengan demikian, dari hari ke hari hidup kita mestinya menjadi lebih berkualitas sehingga makin pantas disebut putera-puteri Allah, bapak yang mahabaik.




