HARI MINGGU BIASA XXII

Bacaan I: Yer. 20:7-9; Bacaan II: Rm. 12:1-2; Bacaan Injil: Mat. 16:21-27.
Bacaan hari ini, mau mengatakan kepada kita bahwa penderitaan merupakan langkah menuju kepenuhan cinta. Perjalanan Yesus ke Yerusalem merupakan perjalanan menuju puncak kesetiaan sang Putra pada kehendak Bapa, dimana karena cinta kepada Bapanya Ia rela memberikan hidupnya, melewati berbagai penghinaan, penolakan, dan penderitaan. Ada tiga syarat yang diberikan Yesus untuk menjadi murid dan mengikutinya: menyangkal diri, memikul salibnya, dan berjalan bersama Yesus.
Menyangkal diri merupakan revolusi spiritual yang otentik, ini merupakan pertobatan yang sesungguhnya. Menyangkal diri berarti, tidak lagi memuja diri dan mengalahkan keangkuhan diri. Kita ini hanya debu yang hilang ditiup angin, yang walaupun dengan berbagai studi, kekayaan, keberhasilan,atau status sosial, hidup kita ini rapuh dan bisa mati kapan saja; tetapi bagi Tuhan kita sangat berarti sehingga dijadikan anak. Menyangkal diri berarti, membuka hati dan membiarkan Tuhan menjadi tumpuan dan pusat hidup, jadi kita harus meninggalkan hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan dengan keegoisan kita.
Memikul salib berarti, kesediaan kita, pernyataan “ya” kita kepada Tuhan melalui penderitaan dan kematian. Yesus mengingatkan bahwa untuk mendapat kebebasan kita harus mati dan bangkit. Kebebasan bukan berarti melakukan kehendak hati, tetapi mengandung sebuah komitmen dan kesetiaan. Hanya bagi mereka yang benar-benar bebas, yang mencintai Allah mampu menyerahkan diri secara total.
Mengikuti Yesus berarti, berjalan bersama Yesus, mengikuti jejaknya, merasakan apa yang di rasakan Yesus, mengalami segala sesuatu seperti apa yang dialami Yesus. Menjadi seorang kristiani tidak mudah, karena kita harus ikut ambil bagian dalam penderitaan, karena Jika setia kepada kristus dan gerejanya kita tidak akan luput dari ketidakpahaman dan penolakan. Berjalan bersama Yesus berarti siap diejek, dihina, dicemooh, siap mewartakan, siap diutus, siap dihadang, dan siap menghadapi penolakan. Siapa yang setia dan siap, itulah murid yang sejati, yang karena cinta kepada Allah, menyerahkan diri secara total. Pertanyaannya: maukah kita menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus? Apakah kita berani, mewartakan Sabdanya tanpa Takut? P. Patrisius Frans Maria Bora. OSM




