Menunggu

Bacaan I: Keb. 6:13-17; Bacaan II: 1Tes. 4:13-18; Bacaan Injil: Mat. 25:1-13.
Menunggu
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan namun justru seringkali tidak terelakkan. Dia laksana sebuah jembatan yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa yang lain. Saat ini, misalnya, diseluruh belahan dunia sedang menunggu hadirnya vaksin Covid-19. Sebuah penantian yang belum jelas dimana ujungnya.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan sepuluh gadis pengiring mempelai. Dalam adat istiadat Yahudi zaman lampau, mempelai wanita biasanya diiiringi oleh teman-teman dekatnya untuk menyongsong mempelai laki-laki. Sepuluh gadis itu masing-masing membawa pelita namun hanya lima orang dari mereka yang membawa persediaan minyak. Mereka ini disebut gadis yang bijaksana. Lima lainnya disebut gadis yang bodoh. Lama menunggu ternyata baru tengah malam mempelai laki-laki tiba. Lima gadis yang bodoh tidak bisa ikut menyongsong karena kehabisan minyak dan harus membelinya. Namun apa daya, saat kembali dari membeli minyak, pintu tempat perjamuan telah ditutup.
Ajakan untuk hidup secara bijaksana sudah ada sejak zaman lampau seperti yang ditulis dalam kitab Kebijaksanaan …siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan (Keb 6:15b). Lalu mengapa Matius menggunakan istilah bijaksana dan bodoh, bukan pintar dan bodoh? Untuk itu silakan mengingat kembali perumpamaan orang yang membangun rumah (Mat 7:24-27). Dalam perumpamaan ini, orang yang bijaksana adalah orang yang mendengarkan perkataan Yesus dan melakukannya. Sementara orang yang bodoh adalah orang yang mendengarkan Yesus namun tidak melakukannya.
Pesan lain dari bacaan Injil hari ini adalah mengingatkan kembali para pengikut Kristus untuk mempersiapkan diri dalam menantikan kedatangan-Nya. Kesepuluh gadis itu sampai mengantuk dan tertidur (ayat 5) menggambarkan kedatangan-Nya yang tidak diketahui dengan pasti. Dan saat Dia datang (‘tengah malam’ - ayat 6) maka para pengiring sudah harus siap. Manakah yang menjadi pilihan Anda? Menjadi ‘gadis yang bijaksana’ atau menjadi ‘gadis yang bodoh’? Satu hal yang pasti adalah pintu perjamuan tertutup untuk ‘gadis yang bodoh’. [CT]




