
Bacaan I : Kej. 2:7-9;3:1-7; Bacaan II: Rm. 5:12-19; Bacaan Injil: Mat. 4:1-11.
Lawanlah setan, teladani Yesus
Di awal masa Prapaskah ini Gereja mengajak kita semua untuk merenungkan, menyadari, dan tegas terhadap setiap godaan setan yang selalu berusaha menghalangi perjalanan hidup umat menuju pada kekudusan. Apa yang harus kita lakukan?
Pertama, dengan segala kerendahan hati menyadari kelemahan kita [Mzm 51:3-6]. Kedua, meneladani Yesus yang sabar, tegar, tegas, dan tetap selalu bersandar pada Bapa. [Mat 4:1-11]. Manusia tak henti-hentinya mengalami pencobaan. Mulai dari godaan setan lewat 'keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup' yang berhubungan dengan masalah kebutuhan pokok, ekonomi dan kekuasaan, hingga yang berhubungan dengan persoalan kerohanian.
Kisah hidup Santo Yohanes asal Spanyol yang juga dikenal sebagai Santo Yohanes dari Salib (1542) bisa jadi contoh orang biasa yang tegar, sabar, dan tetap bersandar pada Allah ketika menghadapi beragam pencobaan. Perjalanan kehidupan rohaninya amat berat. Setan seolah tak pernah berhenti menggoda. Yohanes tetap mempertahankan prinsip hidup sucinya meski sempat dijebloskan ke dalam penjara dan dicobai dengan berbagai godaan duniawi. Ia tetap menjadi dirinya sendiri. Yohanes tetap menjadi Yohanes anak seorang penenun yang miskin.
Tuhan tetap bersama hambanya yang setia. Tak hanya Bunda Maria yang membimbingnya keluar dari penjara, bahkan Yesus sendiri berkenan menyertai Yohanes dalam suatu penampakan. Yohanes wafat 14 Desember 1591. Paus Pius XI memberikan gelar Doktor Gereja kepada Santo Yohanes dari Salib pada tahun 1926 berkat buku-buku rohaninya yang memperkaya iman umat.
Allah Bapa tak akan pernah membiarkan umat-Nya berjuang sendiri dalam mengarungi perjalanan hidup menuju kesucian, meski kita sudah ternoda oleh dosa. Kasih karunia Allah melalui kehadiran Putra-Nya Yesus Kristus di dunia menjadi tanda yang paling nyata.
“Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” [Rm 5:15]. (VH)




