
Bacaan I: Mal. 3:1-4; Bacaan II: Ibr. 2:14-18; Bacaan Injil: Luk. 2:22-40.
Kerinduan akan Allah
Minggu ini kita diarahkan pada pemahaman akan kasih dan penyerahan diri Allah. Gambaran Allah yang tampil melalui Yesus menunjukan suatu sikap kerendahan hati. Allah yang adalah sempurna menjadi manusia dan merendahkan diri.
Maleakhi berbicara tentang persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Persembahan yang berkenan adalah persembahan yang dapat meyenangkan Tuhan. Persembahan seperti apa yang dapat menyenangkan Tuhan? Selanjutnya Ibrani berbicara tentang Yesus yang menyatakan diri sebagai manusia yang rendah dan mendapat kemuliaan dari Allah, yaitu sebagai imam besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Injil Lukas berbicara tentang Yesus yang dipersembahkan di bait Allah. Yesus merupakan Allah menjadi setara dengan manusia, kecuali dalam hal dosa. Yesus dipersebahkan di bait
Allah merupakan tanda betapa Allah sungguh-sungguh hadir di tengah umat-Nya. Menarik bahwa kehadiran Yesus telah dinantikan oleh Simeon. Gambaran Simeon adalah wujud manusia yang rindu akan Allah. Kerinduan akan Allah hanya terjadi jika seseorang benar-benar mempersembahkan diri kepada Allah seutuhnya. Simeon mempersembahkan dirinya siang malam di bait allah demi bertemu dengan Tuhan. Tuhan yang ditemukan adalah kebahagiaan, sehingga setelah bertemu dengan-Nya Simeonpun berkata”sekarang Tuhan biarkanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu”. Seperti halnya pemazmur berkata: “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepadaMu, tubuhku rindu kepadMu, seperti tanah kering dan tandus tidak berair (Maz 63:2). Setelah bertemu Tuhan hatinya puas dan tak ada hal lain yang diminta selain menghadap Allah, karena dia menemukan kebahagiaan dalam Allah. Persembahan yang menyenangkan Tuhan tidak lain dari pertobatan batin dan penyerahan diri secara utuh.
Saudara/i terkasih persembahan diri Allah sesungguhnya suatu gugatan akan kedegilan hati kita. Allah hadir kedunia, menghampakan diri agar sama seperti kita. Marilah kita datang bertemu Tuhan yang kita rindukan agar kitapun pantas menjadi manusia yang dipenuhi oleh kedamaian dan sukacita. Marilah mempersembahkan hati bagi Tuhan, yaitu hati yang selalu rindu akan kehadiran Tuhan. (Fr. Kristian, OSM)




