Bersukacitalah Senantiasa!

Bacaan I: Yes. 61:1-2a,10-11; Bacaan II: 1Tes. 5:16-24; Bacaan Injil: Yoh. 1:6-8,19-28.
Bersukacitalah Senantiasa!
Hari ini adalah hari minggu adven Gaudete, atau minggu sukacita. Bacaan kedua dimulai dengan kata-kata Paulus: “Bersukacitalah senantiasa” (Semper Gaudete!). Tetapi dalam kondisi pandemi dan penyakit yang mengancam, ekonomi melemah dan politik yang belum jelas, bagaimana cara kita bersukacita?
Dalam masa Adven, perhatian kita tentunya diarahkan pada peristiwa-peristiwa sebelum kelahiran Kristus. Ada Yohanes Pembaptis yang berseru-seru mempersiapkan jalan bagi Tuhan, bagaimana kalau apa yang diteriakannya tidak terjadi, bukankah dia akan menjadi malu? Zakaria ayah Yohanes menjadi bisu, ibunya Elisabeth seumur hidup dicemooh karena mandul, dan harus hamil dimasa tuanya. Maria seorang perawan tiba-tiba hamil tanpa suami, bahkan harus melarikan diri ke rumah Elisabeth agar orang-orang sekampungnya tidak melihat ia hamil tanpa suami. Yusuf hatinya hancur berkeping-keping karena tunangannya tiba-tiba hamil. Para gembala yang menyaksikan kelahiran Yesus adalah orang-orang yang sangat miskin dan harus tidur di alam terbuka bersama domba-domba. Kalau kita perhatikan, dari semua tokoh yang terlibat dalam kelahiran Kristus, manakah yang dapat disebut bersukacita? Rasanya kita bisa sepakat kalau apa yang mereka alami bukanlah kejadian sukacita.
Tetapi dalam nyanyian mazmur kita menemui magnificat Maria: “hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku… Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” mari kita pikirkan mengapa Maria dalam segala tekanan yang ia alami justru mengatakan dirinya bersukacita?
Dalam kehidupan sehari-hari, segala kesulitan dan kekuatiran kita lahir dari hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, saat itu kita merasa kesal dan menderita karena kecewa harapan kita tidak terpenuhi. Semua tokoh-tokoh yang hadir pada waktu kelahiran Kristus juga mengalami kekecewaan karena kenyataan hidup tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Akan tetapi, daripada meratapi segala kesulitan, dan malapetaka yang dialami, mereka memilih untuk percaya kepada Tuhan, dan kemudian mereka sungguh mengalami sukacita, karena mereka melihat bahwa Tuhan sesungghnya sangat dekat dan tidak meninggalkan mereka. Dalam masa Adven ini kita juga diajak untuk memilih percaya dan khususnya bersukacita pada minggu sukacita ini, dan kemudian meneruskan hidup dalam kepercayaan dan sukacita ini. Semper Gaudete! (bersukacitalah senantiasa!—1Tes 5:16). [AJ]




