
Bacaan I: Yeh. 34:11-12,15-17; Bacaan II: 1Kor. 15:20-26,28; Bacaan Injil: Mat. 25:31-46.
DOMBA KRISTUS YANG SEJATI
Nurani Yoseph Orem Blikololong (Yoseph) terusik saat melihat anak-anak di lingkungannya tidak dapat bersekolah. Kemiskinan membuat anak-anak itu harus mengubur impian dalam-dalam untuk menikmati pendidikan. Bahkan sebagian anak yang tadinya bersekolah harus putus di tengah jalan dan bekerja. Dimana ada kehendak baik, disitulah TUHAN membuka jalan. Dengan penghasilan yang pas-pasan, Yoseph berhasil mendirikan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Peduli Kasih di kota kelahirannya, Kupang, NTT. Bukan itu saja, sebuah SMP yang bernama Surya Mandala juga berhasil didirikannya bagi anak-anak miskin. Mereka tidak perlu membayar sepeserpun! Keberpihakan TUHAN terhadap umat-Nya yang menderita telah ribuan tahun disabdakan-Nya (Im 23:22). Hal ini ditegaskan lagi oleh penulis Injil Matius dalam perikop Penghakiman Terakhir. Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan, pada akhir zaman Anak Manusia akan datang bersama para malaikat-Nya. Dia akan mengumpulkan semua bangsa dan kemudian memisahkan mereka seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Golongan ‘domba’ adalah mereka yang selama hidupnya berbelas kasih kepada sesama yang menderita. Mereka akan mendapat ganjaran hidup kekal. Sementara golongan ‘kambing’ akan menerima siksa kekal karena selama hidupnya mereka mengabaikan sesama yang menderita. Penekanan dalam perikop ini adalah berbelarasa kepada sesama yang menderita berarti melakukannya untuk Anak Domba atau Sang Raja Alam Semesta itu sendiri. Yoseph bukan seorang konglomerat. Bapak enam anak ini adalah seorang pemulung. Namun perbuatannya itu mencerminkan golongan ‘domba’. Dengan menyediakan sekolah gratis, Yoseph telah melakukan keberpihakan kepada mereka yang menderita. Bukan tidak mungkin anak-anak yang tidak bersekolah ini suatu saat akan kelaparan, kehausan dan tidak punya tempat tinggal. Yoseph berusaha menyelamatkan masa depan mereka. Dia juga telah memberi teladan kepada kita bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berbelarasa. Melalui Injil hari ini dan kisah hidup Yoseph kita diingatkan kembali apabila kita berani menyebut diri domba-domba Kristus, maka perbuatan kita pun harus mencerminkan golongan ‘domba’ seperti dalam perikop Penghakiman Terakhir tersebut. Itulah domba Kristus yang sejati. [CT]




