
Bacaan I: Why. 7:2-4,9-14; Bacaan II: 1Yoh. 3:1-3; Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a.
BAHAGIA
Bahagia ternyata bukan hanya monopoli perasaan pribadi manusia, namun juga telah mewakili kehidupan sebuah negara. Di tahun 2020 ini Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menetapkan Finlandia sebagai negara yang paling bahagia di dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh World Happiness Report, ada empat dari enam faktor yang digunakan untuk menjelaskan kebahagiaan suatu negara. Empat faktor itu di antaranya aspek lingkungan sosial, rasa kebebasan untuk membuat keputusan penting dalam hidup, kemurahan hati, dan kepercayaan. Ucapan Bahagia (Mat 5:1-12) ditempatkan oleh penulis Injil Matius sebagai pembuka dalam rangkaian Khotbah di Bukit. Menilik ucapan-ucapan yang disampaikan oleh TUHAN Yesus ini memang terkesan Dia sedang berbicara di depan khalayak umum. TUHAN Yesus mengajarkan kriteria bahagia dalam makna yang lebih dalam yaitu miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, dianiaya karena kebenaran dan membawa damai. Dari perikop ini nampak jelas bahwa kemurahan hati adalah salah satu syarat bahagia. Lalu bagaimana dengan ayat yang menyatakan “Berbahagialah orang yang berdukacita..” (ayat 4). Apakah orang berdukacita layak disebut berbahagia? Dalam teks bahasa Yunani, penulis Injil Matius menggunakan kata “penthountes”. Kata ini biasa digunakan untuk perasaan sedih karena kematian seseorang yang menjadi tumpuan hidupnya. Selain itu kata ini juga digunakan untuk orang yang bersedih karena meratapi dan menyesali dosa-dosanya. Jadi dukacita yang dimaksud oleh TUHAN Yesus memiliki makna religius yang mendalam. Pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Finlandia tidak menjamin sebuah kebahagiaan. Kita harus ‘mencuci bersih jubah kehidupan kita di dalam darah Anak Domba’ (Why 7:14) dan melaksanakan perintah-perintah-Nya agar layak disebut anak-anak Allah (1 Yoh 3:1). Itulah kebahagiaan sejati para pengikut Kristus yang kelak akan bersatu dengan para kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini. (CT)




