
Bacaan I : Zef. 2:3; 3:12-13; Bacaan II : 1Kor. 1:26-31;
Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a.
HIDUP DI DALAM KERENDAHAN HATI
Penyembahan berhala, kemunafikan religius, kekerasan, dan ketidakadilan sosial merupakan dosa-dosa yang dibuat oleh orang-orang Kerajaan Yehuda pada masa nabi Zefanya. Namun tidak semua orang melakukan dosa, masih ada sekelompok orang yang hidup benar dan rendah hati. Mereka adalah orang-orang yang mencari perlindungan dalam nama TUHAN (Zef 3:12). TUHAN berjanji bahwa mereka ini akan terlindung dari murka-Nya. Janji ini tentu merupakan penghiburan bagi mereka yang selama ini setia dan hidup taat kepada-Nya.
Penghiburan yang senada disampaikan oleh Yesus dalam pengajaran-Nya yang kemudian hari dikenal juga dengan nama Delapan Sabda Bahagia karena diawali dengan kata “Berbahagialah...”. Pengajaran Yesus ini merupakan penghiburan bagi orang-orang “kecil” yang selama ini terpinggirkan karena status sosialnya, mendapatkan perlakuan tidak adil dan mencari kebenaran. Yesus menyebut mereka berbahagia karena Allah berpihak kepada mereka. Yesus mengajarkan tentang kebahagiaan sejati yang berlawanan dengan yang diminta dunia, yang mengejar kekuasaan dan kekayaan duniawi. Kebahagiaan sejati justru ada dalam kerendahan hati, kesucian hati, lemah lembut dan membawa damai.
Sementara itu kepada jemaat Korintus Paulus mengingatkan kembali awal panggilan mereka. Jemaat Korintus bukan dipanggil karena mereka orang-orang bijak, berpengaruh ataupun terpandang. Mereka dipilih Allah justru karena mereka orang-orang biasa bahkan orang yang tidak berarti. Allah memakai mereka untuk mempermalukan orang-orang yang merasa bijak, terpandang dan suka memegahkan diri.
Ketiga bacaan kitab suci hari ini mengingatkan kita untuk tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tetapi berserah pada Tuhan dengan kerendahan hati, baik dalam kesusahan maupun di setiap aspek kehidupan kita. Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan dan keselamatan. Kita juga diingatkan bahwa Tuhan tidak memilih orang orang yang merasa dirinya bijak, kuat, berkuasa, karena Dia tidak menginginkan manusia jatuh ke dalam dosa kesombongan. Tidak pantas manusia menyombongkan diri atau memegahkan diri dihadapan-Nya. Karena semua bersumber hanya dari pada Dia saja.
Refleksi bagi diri kita, apakah saya miskin dihadapan Allah, apakah saya berduka karena dosa saya, apakah saya lemah lembut dan membawa damai? Kita harus menyadari bahwa kita semua adalah manusia-manusia berdosa yang oleh Allah berada di dalam Yesus Kristus yang telah menebus dan menguduskan kita. Mari kita hidup di dalam kerendahan hati dan hanya bermegah di dalam Tuhan. Amin. [MDR]




