
Bacaan I : 1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Bacaan II : Ef. 5:8-14;
Bacaan Injil: Yoh. 9:1-41
HIDUP DI DALAM TERANG
Samuel, seorang nabi besar, ternyata bisa terkecoh oleh penampilan fisik seseorang. Saat itu Samuel diutus untuk mengurapi calon raja baru Israel dari anak-anak Isai. Ketika tiba di kediaman Isai, Samuel melihat Eliab yang gagah. Ia berpikir, "Pastilah ini orang yang dipilih Tuhan." Namun, TUHAN telah menetapkan pilihan-Nya sendiri. Siapakah dia? Ternyata dia adalah Daud, si bungsu yang bahkan tidak diperhitungkan oleh ayahnya sendiri untuk hadir dalam pertemuan itu. Bacaan pertama ini mengajarkan kita bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh status, penampilan fisik, atau urutan kelahiran, melainkan oleh kesiapan hati di hadapan Allah.
Sementara itu bacaan Injil mengisahkan orang buta yang sejak lahir selalu melihat dalam gelap. Nasibnya berubah saat dia bertemu dengan Yesus yang kemudian membuatnya melek dan dapat melihat dengan jelas. Namun mujizat penyembuhan orang buta yang terjadi di hari Sabat ini tidak serta merta membuat orang-orang Farisi melihat Yesus sebagai Mesias. Sebagian dari mereka justru mengatakan bahwa Yesus bukanlah sosok yang datang dari Allah karena Dia tidak memelihara hari Sabat. Berbeda dengan orang-orang Farisi yang tidak percaya kepada Yesus, orang buta yang disembuhkan ini menjadi percaya kepada-Nya dan sujud menyembah-Nya [Yoh 9:38]. Bacaan ini mengajarkan kita untuk berproses dalam iman seperti orang buta yang disembuhkan. Pada awalnya dia memanggil Yesus sebagai "orang yang bernama Yesus," lalu "seorang nabi," dan akhirnya menyembah-Nya sebagai "Anak Manusia." Sementara orang-orang Farisi yang bisa melihat, justru hatinya buta sehingga tidak dapat melihat sosok Mesias dihadapan mereka. Mereka terkunci dalam aturan dan kesombongan sehingga gagal melihat karya Allah yang sedang terjadi di depan mata mereka.
Kita telah memasuki Minggu Prapaskah keempat. Dalam tradisi Gereja Katolik disebut Minggu Laetare, yang berarti "Minggu Sukacita". Apa yang membuat kita harus bersukacita? Seperti Paulus yang mengingatkan Jemaat di Efesus bahwa dahulu mereka adalah kegelapan namun sekarang mereka adalah terang di dalam Tuhan. Itulah sukacita kita. Lebih lanjut Paulus mengajak mereka untuk hidup sebagai anak-anak terang [Ef 5:8]. Kita juga diminta untuk hidup sebagai anak-anak terang. Kegelapan terjadi saat kita terpaku pada diri sendiri seperti orang Farisi yang merasa paling benar dan menutup diri terhadap rahmat Tuhan. Sementara, hidup dalam terang adalah penyerahan diri seperti Daud dan si buta. Terang hadir saat kita membiarkan Tuhan memilih dan membasuh kita. Mari kita menjaga hidup kita agar selalu berada di dalam terang. Tuhan memberkati selalu. [MLS]




