
Bacaan I : Yes. 8:23b - 9:3; Bacaan II : 1Kor. 1:10-13,17;
Bacaan Injil: Mat. 4:12-23
MENJADI TERANG
Setiap hari Minggu Masa Biasa Ketiga Gereja merayakan Hari Minggu Sabda Allah. Perayaan yang ditetapkan oleh mendiang Paus Fransiskus pada tahun 2019 ini dimaksudkan untuk menekankan pentingnya Kitab Suci sebagai terang dan pusat kehidupan beriman.
Semboyan dari R.A. Kartini, – habis gelap terbitlah terang – mungkin dapat membantu kita untuk mengerti apa yang ingin sampaikan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengenai nubuatnya tentang kehadiran “Sang Terang”. Yesaya menubuatkan bahwa bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar (Yes 9:1).
Penggenapan dari nubuat Yesaya dapat dibaca di dalam bacaan Injil hari ini yang berkisah tentang awal karya Yesus di Galilea. Bagaimana kaitan nubuatan tersebut dengan bacaan Injil hari ini? Nabi Yesaya menyebutkan bahwa dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali..” (Yes 8:23b). Daerah ini merupakan wilayah utara Israel yang pernah ditaklukkan oleh bangsa Asyur dan kemudian didiami oleh bangsa-bangsa asing. Para penduduk dan keturunannya kemudian dianggap bukan murni keturunan Israel lagi. Namun, Matius justru mencatat awal mula karya Yesus adalah Galilea yang terletak di utara, tanah Zebulon dan Naftali yang dahulu direndahkan oleh TUHAN. Galilea mendapat kehormatan melihat Terang yang besar dan di sanalah seruan pertobatan digaungkan (Mat 4:17).
Seperti tanah Zebulon dan Naftali mungkin kita pernah terjebak dalam situasi kegelapan, ketidakpastian dan kehilangan arah. Kita membutuhkan terang untuk keluar dari kegelapan itu. Jika pada waktu itu Yesus datang sebagai penerang maka di saat-saat kita membutuhkan terang kita dapat kembali menemukannya di dalam Kitab Suci yang di dalamnya berisi sabda dan pengajaran dari Sang Terang itu sendiri. Dengan membaca, merenungkan dan melaksanakan ajaran Sang Terang maka itu berarti kita mengikuti Sang Terang dan tidak lagi berjalan di dalam kegelapan.
Tugas kita tidak berhenti sampai di situ. Belajar dari pengalaman hidup rasul Paulus yang pernah mengalami masa-masa kegelapan dengan memburu para pengikut Yesus, maka setelah bertemu dengan Sang Terang Paulus mengatakan bahwa dia diutus oleh Kristus untuk memberitakan Injil (1 Kor 1:17).
Maka, beranjak dari “kegelapan” dan mengikuti Sang Terang dan menjadi terang adalah sebuah pilihan prioritas kita semua tanpa alasan. Banyak cara untuk mewujudkannya. Mari, kita tuliskan dalam hati dan pikiran kita masing-masing agar kita mengikuti teladan Yesus dan menjadi cahaya yang memancarkan kasih Allah ke dunia. Disanalah Sabda Allah, Kabar Gembira diwartakan. Semoga demikian. [MS]




